Kesepakatan Perang Ukraina Hampir Jadi-Tapi Siapa yang Diuntungkan?
Pejabat AS dan Ukraina mengatakan bahwa pembicaraan di Jenewa menunjukkan kemajuan dalam menyusun ulang rencana perdamaian untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina. Rencana awal yang bocor sebelumnya menuai kritik karena dianggap terlalu menguntungkan Rusia-termasuk tuntutan agar Ukraina menyerahkan wilayah dan membatasi militernya. AS mengatakan draf tersebut kini telah direvisi dan terus diperbaiki.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa dokumen itu adalah “kerangka kerja yang hidup” dan terus berubah setiap hari. Rubio juga mengatakan bahwa pembicaraan terbaru dengan Ukraina adalah yang paling positif sejauh ini, meski tidak memberikan detail karena negosiasi masih berlangsung. Gedung Putih menyebut diskusi di Jenewa “sangat produktif” dan bahwa revisi baru sudah mencakup isu besar seperti keamanan, ekonomi, infrastruktur, dan kedaulatan Ukraina.
Namun rencana ini menimbulkan kebingungan dan kritik dari banyak pihak di AS dan Eropa. Sejumlah anggota Kongres mempertanyakan asal-usul rencana awal, yang mereka nilai terlalu mirip “keinginan Rusia.” Beberapa senator bahkan mengatakan mereka awalnya diberi tahu bahwa dokumen tersebut bukan rancangan resmi AS. Pemerintah kemudian meluruskan bahwa rencana itu disusun AS tetapi melibatkan masukan dari Rusia dan Ukraina.
Di sisi lain, tekanan politik terus meningkat. Presiden Trump mendesak agar kesepakatan dicapai sebelum Thanksgiving dan mengancam akan menghentikan bantuan jika Ukraina tidak menyetujui proposal tersebut. Namun pemerintahannya juga memberi sinyal bahwa rencana itu masih bisa dinegosiasikan. Ukraina sendiri menegaskan bahwa perjanjian apa pun harus sepenuhnya menghormati kedaulatan dan keamanan mereka.
Banyak pemimpin Eropa memperingatkan AS agar tidak memaksa Ukraina menerima konsesi yang menguntungkan Rusia. Mereka menegaskan bahwa menekan korban dan bukan agresor justru melemahkan keamanan global. Dana dan waktu dianggap semakin menipis bagi Ukraina, tetapi perdebatan besar masih berlangsung mengenai bagaimana mencapai perdamaian yang adil. (az)
Sumber: Newsmaker.id