Pemerintah AS Buka, Pasar Masih Buta
Penutupan pemerintah Amerika Serikat yang berlangsung selama 43 hari akhirnya resmi berakhir setelah Presiden Donald Trump menandatangani anggaran pendanaan sementara. Namun, meski kantor pemerintahan kembali buka, masalah baru muncul: pasar kini dihadapkan pada kekosongan data ekonomi resmi yang panjang. Pelaku pasar, termasuk trader emas dan forex, menunggu bagaimana pemerintah AS akan “mengejar ketertinggalan” rilis data setelah enam minggu lumpuh.
Otoritas statistik seperti BLS, BEA, dan lembaga lain tidak akan merilis semua data yang tertunda dalam satu hari sekaligus. Mereka diperkirakan akan menyusun kalender baru dan merilis laporan secara bertahap, dengan prioritas pada data penting seperti tenaga kerja, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi. Artinya, beberapa hari dan minggu ke depan jadwal rilis bisa menjadi lebih padat dari biasanya, tetapi tetap terstruktur satu per satu, bukan “banjir data” dalam sehari.
Yang membuat pasar makin bingung, sebagian data untuk periode Oktober kemungkinan besar tidak akan pernah dirilis. Saat shutdown berlangsung, survei rumah tangga dan pengumpulan data tertentu tidak dilakukan, sehingga laporan penting seperti jobs report Oktober (beserta tingkat pengangguran) dan data inflasi Oktober berpotensi batal total. Kekosongan ini meninggalkan “lubang” di deretan data ekonomi yang biasa menjadi pegangan utama analis dan bank sentral.
Bagi The Fed, jeda dan lubang data ini bisa menjadi alasan untuk lebih berhati-hati dalam menentukan langkah suku bunga. Tanpa gambaran lengkap soal inflasi dan kondisi pasar tenaga kerja, sulit untuk yakin apakah ekonomi cukup lemah untuk butuh pemangkasan suku bunga tambahan. Di sisi lain, pasar keuangan sudah terbiasa menggantungkan harapan pada data resmi, sehingga setiap rilis susulan—meski terlambat—tetap berpotensi menggerakkan dolar, emas, obligasi, hingga indeks saham.
Bagi platform ekonomi dan trader ritel, situasi ini butuh penyesuaian teknis dan edukasi. Kalender ekonomi untuk periode Oktober, khususnya untuk data AS, perlu diberi catatan jelas bahwa sebagian rilis “dibatalkan karena shutdown” dan bukan sekadar belum di-update. Sambil menunggu jadwal baru yang penuh dari data September dan November, pelaku pasar mau tak mau harus lebih mengandalkan data alternatif, komentar pejabat The Fed, dan sentimen global untuk membaca arah pasar.(asd)
5 Poin Inti:
- Shutdown pemerintah AS selama 43 hari sudah berakhir, tapi menyisakan kekosongan data ekonomi.
- Data yang tertunda akan dirilis bertahap, bukan dirapel sekaligus dalam satu hari.
- Sejumlah data kunci Oktober, seperti jobs report dan inflasi, berpotensi tidak pernah dirilis.
- Kekosongan data membuat keputusan suku bunga The Fed dan arah pasar jadi lebih tidak pasti.
- Kalender ekonomi dan pelaku pasar perlu memberi catatan khusus untuk data Oktober dan lebih mengandalkan data alternatif serta panduan dari bank sentral.(asd)
Source : Bloomberg.com