AS Izinkan Pembelian Sementara Minyak Rusia yang Sudah di Laut
Pemerintah AS pada Kamis memberi otorisasi sementara untuk pembelian minyak Rusia yang sudah “terjebak” di laut, sebagai upaya menstabilkan pasar energi. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kebijakan ini merupakan langkah “jangka pendek dan sangat terbatas” yang hanya berlaku untuk minyak yang sudah dalam perjalanan.
CNBC melaporkan ada sekitar 124 juta barel minyak asal Rusia yang berada di laut di sekitar 30 lokasi global per 12 Maret, setara kira-kira pasokan lima hingga enam hari. Bessent menyebut lonjakan harga minyak saat ini sebagai gangguan yang “sementara”, dan menilai kebijakan tersebut akan memberi manfaat ekonomi dalam jangka panjang.
Harga minyak berayun tajam sejak perang Iran dimulai, dengan minyak dilaporkan sempat mendekati US$120 per barel pada Senin. Brent, patokan global, ditutup sedikit di atas US$100 per barel pada Kamis setelah pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, berjanji mempertahankan penutupan Selat Hormuz.
Bessent menekankan langkah sementara ini tidak akan memberi “manfaat finansial signifikan” bagi pemerintah Rusia. Menurutnya, hal itu karena Moskow memperoleh mayoritas pendapatan energi dari pajak yang dipungut pada titik produksi.
Pemberitahuan di situs Departemen Keuangan AS menyebut pengecualian berlaku untuk minyak mentah dan produk Rusia yang dimuat ke kapal pada atau sebelum pukul 00.01 waktu Timur AS, dengan pembelian diizinkan hingga 11 April pukul 00.01 waktu Timur AS.
Kebijakan ini menyusul langkah Washington pekan lalu yang memberi pengecualian 30 hari kepada India untuk membeli minyak mentah Rusia, dengan alasan serupa: hanya mengizinkan transaksi untuk minyak yang sudah berada di laut. Dalam wawancara podcast yang dirilis Jumat, Bessent mengatakan “disayangkan” Rusia akan mendapat keuntungan finansial, namun diharapkan hanya dalam periode yang sangat singkat. Ia menambahkan pengecualian diberikan karena “barel Rusia sudah berada di air” dan menjadi sumber cepat bagi kilang India.
Saat ini, negara-negara G7 dan Uni Eropa memberlakukan sanksi atas minyak Rusia terkait invasi ke Ukraina pada 2022, termasuk penerapan batas harga US$44,1 per barel. Uni Eropa juga berkomitmen menghapus seluruh impor minyak Rusia yang tersisa pada akhir 2027. Pada 2022, Presiden AS saat itu Joe Biden melarang impor minyak Rusia, LNG, dan batu bara ke AS.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id