• Fri, Mar 13, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

13 March 2026 09:11  |

Hormuz Terkunci, Risiko Inflasi Kembali Mendominasi

Nada keras Washington dan Teheran pada hari ke-13 perang memperjelas satu hal: pasar energi belum mendapat “jalan keluar” dalam waktu dekat. Pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menempatkan isu nuklir Iran di atas biaya minyak, serta sikap pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, yang ingin Selat Hormuz tetap efektif tertutup, membuat pelaku pasar menggeser skenario dasar dari gangguan sementara menjadi risiko yang lebih persisten.

Pada titik ini, premi risiko minyak lebih ditentukan oleh kemampuan fisik pengangkutan ketimbang sekadar sentimen. Penutupan Hormuz mengganggu jutaan barel per hari, dan International Energy Agency menyebutnya sebagai pukulan terbesar terhadap produksi global yang pernah tercatat. Dengan gangguan berada di simpul logistik, respons harga cenderung “melompat” karena pasar menilai ulang ketersediaan pasokan efektif, bukan hanya angka produksi nominal.

Kenaikan minyak lebih dari 9% pada Kamis, dengan Brent menutup sesi di atas US$100 untuk pertama kalinya sejak Agustus 2022 dan WTI menyentuh level penutupan tertinggi lebih dari tiga tahun, menunjukkan bahwa upaya kebijakan yang sifatnya administratif belum mematahkan tren. Rencana pemberian keringanan sementara terhadap aturan maritim domestik AS dan otorisasi kedua bagi pembeli untuk mengambil kargo minyak Rusia yang sudah berada di laut memberi sinyal fokus pemerintah pada sisi suplai jangka pendek, tetapi dampaknya dibatasi oleh desain kebijakan yang “sempit” dan oleh fakta bahwa bottleneck utama ada pada keamanan jalur pelayaran.

Di sisi geopolitik, narasi “eskalasi terukur” bergeser menjadi risiko perluasan front. Khamenei menyebut kemungkinan membuka front lain jika serangan AS dan Israel berlanjut, sementara Israel melanjutkan gelombang serangan skala besar dan Iran meningkatkan serangan ke Dubai serta aset pelayaran. Serangan terhadap tiga kapal komersial di Teluk Arab dalam 24 jam terakhir (menurut UK Maritime Trade Operations) menegaskan risiko gangguan tidak lagi terkonsentrasi di Hormuz saja, tetapi berpotensi meluas ke rute dan aset maritim lain.

Faktor biaya dan durasi kini menjadi penguat volatilitas. Pejabat AS memberi penilaian rinci bahwa enam hari pertama perang menelan biaya lebih dari US$11,3 miliar, di tengah laporan sekitar 6.000 target telah diserang sejak operasi dimulai. Angka-angka ini memperbesar ketidakpastian tentang stamina operasional, ruang kompromi politik, dan seberapa cepat pihak-pihak dapat mengurangi intensitas tanpa kehilangan posisi tawar, sehingga pasar sulit memasang “harga akhir” konflik.

Risiko tambahan datang dari dimensi keamanan maritim yang bisa mengubah kalkulasi logistik dari mahal menjadi tidak layak. Menteri Pertahanan Inggris John Healey mengatakan Iran kemungkinan mulai menebar ranjau di Hormuz, meski Wakil Menlu Iran membantahnya. Jika pasar semakin percaya bahwa ancaman ranjau nyata, maka biaya asuransi, pengalihan rute, dan penundaan pengiriman dapat menjadi saluran transmisi yang mengunci harga energi tinggi bahkan sebelum ada kerusakan fisik pada fasilitas produksi.

Implikasi pasar lintas asetnya relatif jelas: minyak cenderung tetap disokong oleh premi risiko suplai selama Hormuz efektif tertutup dan gangguan maritim meluas, sementara emas bisa menghadapi dua gaya yang saling tarik-menarik permintaan lindung nilai geopolitik mendukung, tetapi energi mahal meningkatkan kekhawatiran inflasi dan berpotensi menahan pelonggaran suku bunga, yang biasanya membatasi ruang naik emas. Dolar pada kondisi seperti ini kerap diuntungkan oleh pencarian likuiditas dan keamanan, terutama jika volatilitas meningkat, meski arah akhirnya sangat bergantung pada apakah pasar lebih menekankan “risk-off” atau dampak negatif energi terhadap pertumbuhan global.(asd)

Sumber: Newsmaker.id

 

Related News

GLOBAL

Mahkamah Agung Brasil Tanggapi Keras Ancaman Tarif Trump Ter...

Mahkamah Agung Brasil merespons keras ancaman tarif yang dilontarkan oleh Presiden AS Donald Trump terkait penyelidikan hukum...

21 July 2025 08:22
GLOBAL

Iran Balas Serangan AS, Tapi Pilih Jalur Diplomasi?

Iran meluncurkan rudal ke Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar pada Senin pagi sebagai balasan atas serangan udara Amerika Serik...

24 June 2025 07:49
GLOBAL

OPEC+ Meningkatkan Produksi, Namun Tanda Tanya Besar Masih A...

OPEC+ secara resmi menyelesaikan pemangkasan produksi minyak selama dua tahun dengan menyetujui peningkatan produksi final se...

4 August 2025 08:36
GLOBAL

Ancaman BRICS Belum Berakhir!

Presiden AS Donald Trump kembali mengancam akan mengenakan tarif 10% atas impor dari negara-negara anggota BRICS. Dalam komen...

21 July 2025 08:13
BIAS23.com NM23 Ai