• Sat, Jan 17, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Indonesia News Portal for Traders | Financial & Business Updates

9 October 2025 17:26  |

Kenapa Dolar AS Menguat di Tengah Shutdown dan Tidak Rilisnya Data Ekonomi ?

Meskipun pemerintahan Amerika Serikat mengalami government shutdown dan banyak rilis data ekonomi resmi tertunda, dolar AS justru tetap menunjukkan penguatan. Kondisi ini tampak paradoksal, tetapi ada sejumlah faktor fundamental dan psikologis yang menjelaskan fenomena tersebut.

 

1. Faktor Safe Haven: Investor Lari ke Dolar

Di tengah ketidakpastian politik, ekonomi, dan geopolitik global — termasuk perang di Timur Tengah dan Eropa Timur — investor global tetap memandang dolar AS sebagai aset paling aman di dunia.

Ketika risiko meningkat, aliran dana cenderung keluar dari pasar negara berkembang atau aset berisiko menuju mata uang dolar dan obligasi AS. Akibatnya, permintaan terhadap dolar naik meski kondisi domestik AS sedang tidak ideal.

2. Keterbatasan Data Justru Menekan Aset Risiko

Shutdown menyebabkan data penting seperti inflasi, penjualan ritel, dan produksi industri tidak dirilis tepat waktu. Hal ini menimbulkan ketidakpastian tinggi di pasar, membuat investor sulit memprediksi arah kebijakan moneter berikutnya.

Dalam situasi seperti ini, pelaku pasar lebih memilih “menyimpan uang dalam bentuk dolar” ketimbang mengambil risiko di aset lain seperti saham atau mata uang komoditas.

3. Ekspektasi Bahwa Shutdown Hanya Bersifat Sementara

Sebagian besar analis memperkirakan shutdown kali ini tidak akan berlangsung lama karena tekanan ekonomi dan politik akan memaksa Kongres mencapai kesepakatan anggaran. Dengan asumsi shutdown akan segera berakhir, investor menganggap fundamental ekonomi AS tetap kuat dalam jangka menengah, sehingga dolar tetap dipandang positif.

4. Performa Relatif Ekonomi AS Lebih Baik dari Negara Lain

Meskipun AS sedang mengalami hambatan politik, ekonomi di Eropa dan Jepang terlihat lebih lemah. Data PMI Eropa menunjukkan kontraksi, sementara Jepang masih mempertahankan suku bunga ultra-rendah.

Kondisi ini memperlebar selisih imbal hasil obligasi antara AS dan negara lain — dan meningkatkan daya tarik dolar di mata investor global.

5. Likuiditas dan Dominasi Dolar di Sistem Keuangan Global

Dolar tetap menjadi mata uang utama dunia untuk perdagangan dan cadangan devisa. Saat terjadi krisis, permintaan likuiditas global terhadap dolar meningkat, karena hampir semua transaksi internasional — dari minyak hingga emas — dihargai dalam USD.

Fenomena ini sering disebut “short squeeze on dollar” ketika investor global berbondong-bondong membeli dolar demi memenuhi kebutuhan likuiditas.

Jadi meskipun secara teori shutdown menandakan kelemahan ekonomi dan risiko fiskal, dalam praktiknya dolar justru diuntungkan karena statusnya sebagai mata uang utama dunia dan aset pelindung saat krisis.(mrv)

Sumber : Newsmaker.id

Related News

ANALYSIS & OPINION

Sikap Hati-Hati Investor Lemahkan Emas

Para pejabat The Fed tadi malam mengatakan bahwa mereka masih tetap bersabar untuk mempertahankan suku bunga di kisaran 4,25%...

29 May 2025 09:18
ANALYSIS & OPINION

6 Poin Deklarasi KTT BRICS di Rusia: 'Tekan' Dolar-Perang Ti...

Negara-negara BRICS menyetujui komunike bersama pada Rabu (23/10/2024) selama pertemuan puncak tiga hari kelompok tersebut di...

25 October 2024 22:58
ANALYSIS & OPINION

Semua Langkah Kebijakan Trump Berikan Dorongan Untuk Logam K...

Donald Trump yang resmi dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat pada tanggal 20 Januari 2025 lalu telah merealisasikan bebe...

7 February 2025 09:28
ANALYSIS & OPINION

Amerika Berencana Jual Cadangan Emasnya, Apa Bisa Picu Korek...

Berita mengejutkan datang dari Amerika disaat mentri perdagangan mereka Scott Bessent diberitakan mencoba untuk merevaluasi k...

21 February 2025 10:12
BIAS23.com NM23 Ai