Jangan Abaikan Kekuatan Permintaan Bank Sentral di Tengah Kenaikan Emas ke $4000/toz
Harga emas global kembali mencetak rekor baru di atas $4.000 per troy ounce pada sesi Asia, didorong oleh lonjakan permintaan dari bank-bank sentral dunia serta meningkatnya ketidakpastian ekonomi global. Lonjakan ini menandai penguatan tajam sejak awal tahun, mencerminkan pergeseran besar dalam strategi cadangan devisa berbagai negara.
Menurut laporan World Gold Council, pada kuartal pertama 2025, pembelian emas bersih oleh bank sentral mencapai sekitar 244 ton, dengan mayoritas permintaan berasal dari negara-negara berkembang seperti China, Polandia, dan Turki. Angka tersebut masih jauh di atas rata-rata historis dan memperpanjang tren empat tahun berturut-turut pembelian besar-besaran oleh institusi moneter global.
Langkah bank sentral ini didorong oleh keinginan untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan meningkatkan cadangan dalam bentuk aset riil yang lebih aman di tengah ketegangan geopolitik dan risiko inflasi. Dalam survei Central Bank Gold Reserves Survey 2025, sebanyak 95% responden menyatakan akan menambah cadangan emas mereka dalam 12 bulan ke depan, mencerminkan kepercayaan bahwa emas tetap menjadi aset lindung nilai yang paling stabil.
Selain faktor permintaan institusional, kenaikan harga emas juga diperkuat oleh sentimen “safe haven” akibat krisis fiskal di Amerika Serikat, potensi resesi global, dan ketidakpastian politik di beberapa kawasan utama dunia. Investor ritel dan institusional turut mengikuti langkah bank sentral, memperkuat arus beli di pasar spot maupun futures emas.
Pembelian besar-besaran oleh bank sentral tidak hanya meningkatkan permintaan fisik, tetapi juga memberikan dampak psikologis signifikan di pasar. Ketika lembaga moneter global mempercayai emas sebagai penyimpan nilai jangka panjang, pasar menafsirkan langkah itu sebagai sinyal kuat untuk mempertahankan posisi beli. Alhasil, momentum harga terus berlanjut hingga menembus level $4.000 per troy ounce.
Analis memperkirakan, selama tren de-dolarisasi berlanjut dan ketidakpastian ekonomi global belum mereda, harga emas berpotensi tetap tinggi dalam jangka menengah. Selain itu, ekspektasi pemangkasan suku bunga lanjutan oleh The Federal Reserve turut memperkuat daya tarik emas, terutama karena imbal hasil obligasi AS cenderung melemah.
Kenaikan harga emas juga memberikan efek domino terhadap pasar komoditas lainnya. Harga perak dan minyak dunia ikut menguat, sementara dolar AS sedikit terkoreksi dari level puncaknya karena investor beralih ke aset lindung nilai. Kondisi ini memperlihatkan bagaimana strategi cadangan bank sentral telah menjadi salah satu pendorong utama di balik reli emas yang spektakuler pada tahun 2025 ini.
Namun Kombinasi dari penguatan dolar, kenaikan yield, meredanya geopolitik, dan aksi ambil untung bisa menjadi penyebab utama harga emas terkoreksi pada Oktober ini. Akan tetapi tren jangka panjang tetap positif selama fundamental makro (inflasi, ketidakpastian global, dan kebijakan bank sentral) mendukung aset lindung nilai.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id