Reli Emas Kuat, Namun Waspadai Risiko Berakhirnya Deadlock AS
Harga emas terus menunjukkan penguatan pada perdagangan hari ini, didorong oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap potensi government shutdown di Amerika Serikat serta ekspektasi bahwa Federal Reserve segera memangkas suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.
Menurut laporan Reuters, ketidakpastian fiskal akibat kebuntuan politik di Washington membuat investor global beralih ke aset aman seperti logam mulia. Jika Kongres gagal mencapai kesepakatan anggaran sebelum 1 Oktober, pemerintahan federal AS berisiko lumpuh sebagian. Kondisi ini mendorong sentimen “flight to safety” yang secara historis menguntungkan emas.
Selain itu, ekspektasi pasar bahwa The Fed akan memangkas suku bunga pada kuartal akhir 2025 turut menekan dolar AS. Dolar yang melemah otomatis meningkatkan daya tarik emas bagi pembeli luar negeri, sehingga menopang kenaikan harga.
Secara teknikal, tren emas masih berada di jalur bullish. Indikator harian menunjukkan sinyal beli yang kuat, dengan support utama di kisaran USD 3.850 per troy ounce. Jika level ini mampu dipertahankan, harga emas berpotensi menguji resistance berikutnya di area USD 3.880–3.900 per troy ounce. Sebaliknya, penurunan di bawah support tersebut bisa memicu koreksi menuju USD 3.820 sebelum potensi rebound kembali.
Selain faktor makroekonomi, pembelian emas oleh bank sentral dan investor institusional juga menambah tekanan ke sisi permintaan. Dalam kondisi geopolitik yang masih tidak menentu dan inflasi yang belum sepenuhnya reda, logam mulia tetap menjadi aset lindung nilai utama.
Analis menilai, selama ketidakpastian fiskal AS berlanjut dan prospek pelonggaran moneter tetap terbuka, harga emas berpeluang memperpanjang reli menuju rekor baru. Namun, volatilitas tetap perlu diwaspadai, terutama jika perkembangan politik di Washington menghasilkan kejutan di menit-menit terakhir.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id