Ancaman Shutdown AS: Emas Menguat, Minyak Tertekan, Perak Ikut Terdorong
Kebuntuan politik di Amerika Serikat yang berpotensi memicu government shutdown tidak hanya mengguncang politik domestik, tetapi juga memberi dampak signifikan pada pasar komoditas global, termasuk emas, minyak, dan perak.
Shutdown terjadi ketika Kongres dan Presiden gagal menyepakati anggaran atau resolusi pendanaan sementara. Kondisi ini membuat sebagian besar layanan pemerintah federal berhenti beroperasi, ribuan pegawai dirumahkan tanpa gaji, dan sejumlah laporan resmi ekonomi tertunda. Shutdown terlama dalam sejarah terjadi pada 2018–2019 selama 35 hari, menekan pertumbuhan ekonomi AS hampir 0,2% setiap minggu.
Emas Menguat Sebagai Safe Haven
Ketidakpastian fiskal dan politik yang ditimbulkan shutdown biasanya mendorong lonjakan permintaan aset aman. Investor global beralih ke emas, sehingga harga logam mulia tersebut cenderung menguat. Pelemahan Dolar AS yang kerap mengikuti gejolak fiskal juga menjadi katalis tambahan bagi emas. Pada shutdown 2013 dan 2018–2019, harga emas tercatat naik 2–3% dalam minggu-minggu pertama.
Minyak Tertekan Lemahnya Permintaan
Berbeda dengan emas, harga minyak mentah justru rentan tertekan. Shutdown berpotensi memperlambat aktivitas ekonomi dan konsumsi energi domestik AS, sehingga memberi tekanan pada prospek permintaan minyak. Selain itu, tertundanya rilis data inventori mingguan dari Energy Information Administration (EIA) menambah ketidakpastian di pasar energi. Namun, analis menilai harga minyak tetap lebih dipengaruhi oleh faktor geopolitik dan kebijakan OPEC dibanding shutdown itu sendiri.
Perak Ikut Terdorong, Tapi Terbatas
Perak, yang memiliki sifat ganda sebagai logam investasi dan industri, biasanya ikut terdorong sentimen safe haven saat terjadi ketidakpastian. Meski demikian, prospek permintaan industri yang melemah akibat perlambatan ekonomi bisa membatasi kenaikannya. Dengan kata lain, perak berpotensi naik seiring emas, namun dengan ruang penguatan yang lebih sempit.
Ringkasan Dampak Shutdown pada Komoditas
Emas: Cenderung menguat karena permintaan aset aman dan pelemahan dolar.
Perak: Ikut naik didorong sentimen safe haven, tetapi terbatas oleh risiko industri.
Minyak: Rentan tertekan akibat perlambatan ekonomi dan ketidakpastian data energi.
Dengan tenggat waktu yang semakin dekat dan belum adanya kesepakatan di Washington, pasar global kini menanti apakah pemerintah AS benar-benar akan menghadapi penutupan. Jika terjadi, volatilitas harga komoditas berpotensi meningkat tajam dalam waktu singkat.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id