Harga Minyak Berpotensi Cetak Kenaikan Mingguan Terbesar dalam 3 Bulan
Harga minyak mentah dunia menguat tipis pada perdagangan Jumat (26/9), didorong kekhawatiran gangguan pasokan dari Rusia dan ketegangan geopolitik di kawasan tersebut. Namun, investor tetap waspada terhadap potensi penambahan suplai dari Irak yang bisa menahan reli harga.
Harga minyak WTI saat ini berada di kisaran US$ 65,20 per barel, sementara Brent diperdagangkan mendekati US$ 69,15. Keduanya bersiap mencatat kenaikan mingguan terbesar dalam tiga bulan terakhir.
Rusia dilaporkan membatasi ekspor bahan bakar karena gangguan infrastruktur, yang memicu kekhawatiran pengetatan pasokan global. Sementara itu, serangan drone Ukraina ke fasilitas energi Rusia semakin menambah tensi di pasar energi.
Namun, pasar juga menimbang kabar positif dari Timur Tengah: kesepakatan untuk mengalirkan kembali minyak dari wilayah Kurdistan Irak yang dapat menambah suplai sekitar 230.000 barel per hari. Tambahan pasokan ini berpotensi menahan kenaikan harga yang terlalu tajam.
Secara teknikal, harga WTI masih berada di atas rata-rata pergerakan 5 dan 20 hari, menandakan tren jangka pendek tetap positif. Indikator momentum seperti RSI dan MACD juga mengarah ke zona bullish, meskipun mendekati area jenuh beli.
Level kunci yang perlu diperhatikan hari ini adalah support di US$ 63,50 – 64,50 dan resistance di US$ 66,50 – 67,50. Jika harga menembus resistance, peluang reli lanjutan terbuka lebar, sementara penurunan di bawah support dapat memicu aksi ambil untung.
Untuk Brent, tren teknikal juga masih positif dengan harga tetap bergerak di atas MA 20 dan MA 50. Indikator RSI berada di kisaran 65–70, menunjukkan momentum masih bullish namun mendekati area overbought.
Support terdekat terlihat di US$ 68,30 – 68,70, sedangkan resistance berada di US$ 70,20 – 71,00. Penembusan di atas US$ 71,00 berpotensi membuka ruang kenaikan menuju area US$ 72,50, sementara penurunan di bawah US$ 68,30 dapat memicu koreksi ke US$ 67,50.
Analis memperkirakan harga minyak akan tetap berfluktuasi mengikuti perkembangan geopolitik dan data stok minyak AS. Jika terjadi gangguan pasokan tambahan atau penurunan signifikan stok, harga berpotensi menguat lebih tinggi. Namun, kabar peningkatan produksi atau pelemahan permintaan global bisa menjadi pemicu koreksi.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id