Minyak Brent Bergerak Konsolidasi, Geopolitik Bantu Batasi Pelemahan
Harga minyak Brent pada perdagangan hari ini berada di kisaran US$66,80 – US$67,14 per barel, bergerak relatif sideways seiring pasar menimbang kombinasi pasokan global yang kuat, meningkatnya stok, dan prospek permintaan yang masih belum meyakinkan.
Secara fundamental, harga minyak dibayangi oleh beberapa faktor utama. Pasokan global masih relatif stabil setelah OPEC+ melonggarkan sebagian pemangkasan produksi, sementara laporan inventori terbaru menunjukkan adanya kenaikan stok produk distilat di Amerika Serikat. Kondisi ini memberi sinyal bahwa permintaan pemrosesan minyak mulai melambat.
Di sisi lain, kekhawatiran atas perlambatan ekonomi global terus menekan outlook permintaan energi, meski ketegangan geopolitik di Eropa dan Timur Tengah sempat memberi dorongan kecil pada harga. Laporan Badan Energi AS (EIA) bahkan memperkirakan harga Brent bisa melemah pada kuartal IV 2025 hingga 2026 seiring meningkatnya pasokan global.
Dari sisi teknikal, Brent masih bergerak dalam rentang konsolidasi. Support terdekat berada pada level US$62,60 – US$61,40, sementara resistance kuat berada di kisaran US$72,70 – US$81,60. Indikator RSI menunjukkan kondisi netral, sedangkan beberapa oscillator memberi sinyal overbought yang bisa membatasi kenaikan. MACD juga memperlihatkan potensi tekanan turun dalam jangka pendek.
Jika harga berhasil menembus level US$67,50 – US$68, Brent berpeluang menguji area US$70 – US$72. Namun jika tekanan jual kembali menguat akibat data ekonomi atau laporan stok, support di sekitar US$62 – US$63 kemungkinan besar akan diuji kembali.
Dengan kondisi ini, pergerakan Brent pada perdagangan hari ini diperkirakan cenderung sideways dengan bias sedikit bullish, dengan kisaran intraday di antara US$66 – US$70 per barel.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id