Pasar Waspada Ancaman Oversupply Global, Brent Terus Tertekan!
Minyak mentah Brent bergerak melemah pada perdagangan Jumat (19/9), di tengah kekhawatiran permintaan bahan bakar global yang melambat dan pasokan yang tetap melimpah. Meski pemangkasan suku bunga oleh The Federal Reserve sempat memberikan dukungan, pasar masih diliputi sentimen hati-hati.
Harga Brent saat ini bergerak di kisaran US$ 67–68 per barel, lebih rendah dibanding penutupan sebelumnya. Data stok minyak mentah AS yang tetap tinggi, ditambah ekspektasi produksi OPEC+ yang berpotensi meningkat, menjadi faktor penekan harga. “Kekhawatiran oversupply membuat investor menahan diri, meskipun ada katalis positif dari sisi kebijakan moneter AS,” tulis Reuters.
Pemangkasan suku bunga oleh The Fed biasanya melemahkan dolar AS dan meningkatkan daya tarik komoditas berdenominasi dolar seperti minyak. Namun, efeknya kali ini terbatas karena pasar menunggu sinyal apakah pemangkasan berikutnya akan seagresif yang diharapkan.
Dari sisi teknikal, pergerakan Brent masih menunjukkan bias melemah. Support terdekat berada di kisaran US$ 66,00–66,50 per barel. Jika level ini ditembus, harga berpotensi menguji support selanjutnya di US$ 65. Resistance terdekat berada di area US$ 68,00–68,50, dan jika ditembus bisa membuka jalan menuju level psikologis US$ 69 per barel.
Indikator teknikal seperti RSI dan MACD menunjukkan momentum netral cenderung bearish, sementara EMA50 menjadi level kunci yang menentukan apakah harga dapat bertahan dari tekanan jual.
Secara keseluruhan, prospek minyak Brent jangka pendek tetap bergantung pada data permintaan global, laporan stok minyak mingguan AS, dan kebijakan produksi OPEC+. Pelaku pasar akan mencermati rilis data ekonomi utama pekan ini untuk mencari petunjuk arah harga selanjutnya.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id