Pasokan OPEC+ Naik, Permintaan Global Melemah, Minyak Tertekan
Harga minyak dunia menghadapi tekanan baru pada perdagangan hari ini seiring meningkatnya pasokan dari OPEC+ dan prospek permintaan global yang melambat. Para pelaku pasar menilai outlook minyak cenderung melemah meski sempat muncul ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Dalam konferensi energi APPEC di Singapura, sejumlah eksekutif perminyakan menyampaikan pandangan pesimistis terhadap harga minyak. Mereka menilai kenaikan produksi OPEC+ mulai Oktober berpotensi menambah tekanan pasokan di tengah konsumsi energi yang belum pulih sepenuhnya.
Laporan HSBC juga menyebutkan OPEC+ akan secara bertahap mencabut pemotongan produksi sebesar 1,65 juta barel per hari dalam 12 bulan mendatang. Proyeksi harga minyak Brent pun direvisi turun dari US$70 menjadi US$65 per barel.
Menariknya, meskipun sempat terjadi serangan Israel terhadap Qatar, harga minyak tidak mencatat lonjakan berarti. Hal ini menegaskan bahwa pasar saat ini lebih fokus pada risiko oversupply dibandingkan sentimen geopolitik.
Teknikal: Resistance Kuat di US$68,00
Untuk minyak Brent, harga saat ini bergerak di kisaran US$67,44–67,80 per barel, mendekati area resistance psikologis US$68. Jika level ini mampu ditembus dengan volume yang kuat, peluang penguatan menuju US$70,00 terbuka lebar. Namun, kegagalan menembus resistance berisiko memicu koreksi kembali ke support terdekat di US$65,50. Indikator teknikal seperti RSI yang mendekati 60 masih memberi ruang kenaikan, meski tren jangka menengah tetap menunjukkan bias bearish selama harga belum konsisten di atas US$65.
Fundamental pasar minyak saat ini lebih condong ke arah bearish, dengan fokus pada peningkatan pasokan dan lemahnya permintaan global. Para analis menilai, selama harga belum mampu menembus resistance kunci, pergerakan minyak cenderung terbatas dan berpotensi terkoreksi jika tekanan pasokan terus membesar.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id