Nada Dovish Dari The Fed Dapat Naikkan Minyak
Minyak Brent diperdagangkan stabil di kisaran US$67–68 per barel pada Jumat (22/8), mencatat kenaikan mingguan sekitar 2,7% setelah dua pekan berturut-turut mengalami penurunan. Penguatan ini dipicu oleh kombinasi faktor geopolitik dan data permintaan energi global yang lebih kuat dari perkiraan.
Secara fundamental, pasar energi masih dibayangi konflik Rusia–Ukraina yang jauh dari kata damai, membuat premi risiko tetap melekat pada harga minyak. Di sisi lain, laporan penurunan stok minyak mentah AS sebesar 6 juta barel dalam sepekan terakhir memberi sinyal bahwa permintaan energi masih solid, terutama di tengah musim liburan musim panas. Investor kini menantikan hasil pertemuan di Jackson Hole, yang berpotensi memberi petunjuk arah kebijakan moneter The Fed. Pemangkasan suku bunga bisa memicu pertumbuhan ekonomi global lebih cepat, sehingga mendorong konsumsi energi.
Dari sisi teknikal, harga Brent masih dalam tren bullish jangka pendek. Indikator teknikal seperti RSI, MACD, stochastic, hingga moving averages (MA5 hingga MA200) menunjukkan sinyal strong buy. Bahkan, grafik memperlihatkan pola inverted head and shoulders yang biasanya menjadi pertanda potensi penguatan lebih lanjut. Jika momentum ini berlanjut, Brent berpeluang menguji level psikologis berikutnya di kisaran US$68,90 per barel.
Dengan kombinasi faktor geopolitik, pengetatan pasokan, dan sentimen dovish yang mungkin muncul dari Jackson Hole, harga minyak Brent berpotensi tetap dalam tren positif dalam jangka pendek.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id