Naik Gara-Gara Perang, Turun Karena OPEC, Kok bisa ?
Prediksi jangka pendek serta menengah untuk harga minyak mentah masih akan mengalami kenaikan dengan beberapa faktor pendukung dari geopolitik yang masih memberikan dukungan. Konflik di Timur Tengah antara Israel-Iran telah memasuki hari keenam, memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak melalui Selat Hormuz, jalur vital untuk ekspor global, dimana bila terjadi penutupan ataupun blockade pada selat ini dapat meningkatkan biaya distribusi yang bakal membawa harga makin meningkat.
Sentimen geopolitik memperkuat bullish jangka pendek, mendorong harga naik tapi kenaikan masih tertahan akibat surplus global yang melebar. Laporan dari IEA mengatakan meskipun terjadi konfilk pasokan global masih melebihi permintaan—diproyeksi naik 1,8 juta b/d pada 2025 (total 104,9 juta b/d), sedangkan permintaan diperkirakan hanya naik 720 rb b/d. Produksi OPEC+ & non-OPEC melampaui konsumsi, serta stok minyak meningkat ~1 juta b/d sejak Februari, menambah surplus, disamping itu OPEC+ sedang menjalankan rencana kenaikan output tambahan sebanyak 411 rb b/d sejak Mei dan kemungkinan lanjut ke Juli—meski konflik Timur Tengah berjalan . Tekanan pasokan jangka menengah serta jangka panjang masih masuk kategori bearish—meski risiko geopolitik menopang harga sekarang.
Jadi proyeksi kenaikan harga lebih kearah jangka pendek akan tetapi kenaikan tersebut masih bersifat terbatas akibat jumlah pasokan serta rencana penambahan produksi dari OPEC+, sementara proyeksi jangka menengah serta jangka panjang masih lebih ke arah penurunan akibat jumlah pasokan yang diprediksi akan tetap lebih tinggi dari permintaan untuk tahun ini.
Sumber : (mrv@Newsmaker)