• Mon, Mar 9, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

9 March 2026 18:27  |

Safe Haven vs Inflasi Energi, Siapa Menang?

Pergerakan emas cenderung “ditarik” oleh dua kekuatan yang saling bertabrakan: di satu sisi, eskalasi perang di Timur Tengah bikin permintaan safe haven tetap ada; tapi di sisi lain, lonjakan minyak yang ekstrem justru memicu kekhawatiran inflasi kembali naik, sehingga pasar menilai The Fed bisa menahan suku bunga tinggi lebih lama. Kombinasi “oil shock → fear inflasi → suku bunga lebih tinggi lebih lama” ini biasanya jadi angin lawan untuk emas, karena emas adalah aset non-yielding yang kurang menarik ketika yield naik.

Tekanan makin terasa ketika dolar AS ikut menguat. Dalam kondisi gejolak global, dolar sering jadi safe haven “saingan” emas karena sangat likuid dan jadi tempat parkir dana cepat. Jadi meskipun headline perang biasanya mendukung emas, efek turunan perang yang mengangkat dolar dan yield bisa membuat emas sulit reli. Ditambah lagi, ketika pasar saham dan aset berisiko bergejolak, emas kadang ikut dijual sebagai sumber likuiditas—bukan karena narasi safe haven hilang, tapi karena sebagian pelaku pasar butuh cash untuk menutup margin/kerugian di instrumen lain.

Secara teknikal, bias intraday emas masih rapuh selama harga tertahan di bawah area psikologis sekitar 5.100-an dan dolar/yield belum mendingin. Zona support dekat yang paling banyak dipantau berada di kisaran 5.100–5.070; kalau area ini jebol dan tekanan minyak-yield tetap kuat, emas berisiko memperpanjang koreksi ke support berikutnya yang lebih bawah. Sebaliknya, jika area tersebut bertahan, biasanya pasar akan melihatnya sebagai “lantai” untuk rebound jangka pendek, apalagi kalau muncul arus buy-on-dip.

Dari sisi resistance, pantulan pertama yang wajar biasanya mengarah ke area 5.200-an. Namun untuk menembus lebih tinggi dan mempertahankan reli, emas umumnya butuh katalis yang menurunkan tekanan makro—misalnya dolar melemah atau yield turun—bukan cuma berita perang. Setelah itu, resistance lanjutan berada di area yang lebih tinggi (sekitar 5.240–5.310), yang biasanya baru teruji kalau market masuk fase “relief” dan risk premium perang mulai stabil.

Kesimpulannya, emas hari ini sangat “headline-driven”: eskalasi perang tetap jadi penopang bawah, tetapi selama lonjakan minyak memicu ketakutan inflasi dan membuat dolar/yield menguat, ruang naik emas cenderung terbatas dan volatilitas tetap tinggi. Cara bacanya simpel: selama pasar masih menganggap konflik ini lebih “inflationary” daripada sekadar “risk-off”, emas akan bergerak rumit—bisa memantul sebagai safe haven, tapi sering tertahan oleh dolar dan yield yang lebih dominan.(mrv)

Sumber : Newsmaker.id

Related News

ANALYSIS & OPINION

Jenewa Hari Ini: AS–Iran: Satu Berita Utama Dapat Menggunc...

Putaran kedua pembicaraan nuklir AS–Iran diadakan hari ini di Jenewa, Swiss, dengan saluran komunikasi dimediasi oleh Oman....

17 February 2026 10:34
ANALYSIS & OPINION

Sikap Hati-Hati Investor Lemahkan Emas

Para pejabat The Fed tadi malam mengatakan bahwa mereka masih tetap bersabar untuk mempertahankan suku bunga di kisaran 4,25%...

29 May 2025 09:18
ANALYSIS & OPINION

$5.000 Ditembus! Investor Kabur dari Dolar & Obligasi

Harga emas menembus $5.000 per ons dan mencetak rekor baru di awal pekan, saat investor berbondong-bondong mencari aset aman ...

26 January 2026 11:35
ANALYSIS & OPINION

Prospek 2026: 4 Aset, 1 Pertanyaan Besar—Risk On atau Risk...

Arah pasar keuangan global pada 2026 diperkirakan ditentukan oleh kombinasi pertumbuhan ekonomi yang melambat, tren penurunan...

28 December 2025 12:20
BIAS23.com NM23 Ai