
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Indeks Dolar AS (DXY) bergerak relatif stabil pada Kamis (5/11) setelah mengalami tekanan pada sesi sebelumnya. DXY naik tipis 0,02% ke 101,49, sementara investor mulai mengalihkan perhatian ke laporan tenaga kerja AS yang akan dirilis Jumat untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Pergerakan dolar turut dipengaruhi oleh rebound harga minyak yang naik lebih dari 3% setelah sebelumnya anjlok tajam. Kenaikan harga energi kembali menjadi perhatian pasar karena dapat memengaruhi tekanan inflasi dan ekspektasi terhadap kebijakan moneter The Fed.
Di pasar saham, tekanan kembali terlihat pada sektor teknologi. Sektor teknologi S&P 500 merosot lebih dari 6% karena investor mengkhawatirkan besarnya belanja perusahaan terkait kecerdasan buatan (AI) serta potensi regulasi yang lebih ketat. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa investasi infrastruktur AI dapat melambat dan menekan prospek pertumbuhan ekonomi AS.
Sementara itu, data pasar tenaga kerja memberikan sinyal yang relatif kuat. Klaim awal tunjangan pengangguran AS turun 6.000 menjadi 189.000, lebih rendah dari perkiraan 196.000 dan menyamai level terendah dalam 57 tahun yang sebelumnya tercatat pada Juli. Data tersebut memperkuat pandangan bahwa kondisi pasar tenaga kerja masih cukup solid.
Produktivitas pekerja AS pada kuartal III juga tumbuh lebih cepat dari perkiraan, sehingga membantu menekan biaya tenaga kerja. Kombinasi data tersebut membuat pasar tetap memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed, meskipun ekspektasinya telah menurun. Berdasarkan CME FedWatch, peluang kenaikan minimal 25 basis poin pada Desember berada di 66,1%, turun dari 79,9% sepekan sebelumnya.
Di sisi lain, pernyataan pejabat The Fed menunjukkan bahwa perjuangan melawan inflasi masih berlanjut. Presiden Federal Reserve Cleveland Beth Hammack menilai masih diperlukan langkah lebih lanjut untuk membawa inflasi menuju target 2%, sementara Presiden Richmond Fed Tom Barkin mengatakan kenaikan suku bunga secara bertahap masih masuk akal.
Analisis Newsmaker: dolar saat ini berada di antara dua kekuatan. Data tenaga kerja yang solid dan tekanan inflasi masih memberikan dukungan terhadap ekspektasi kenaikan suku bunga, tetapi kekhawatiran perlambatan investasi AI dan perubahan politik AS membatasi penguatan. Karena itu, NFP menjadi katalis utama berikutnya—data yang kuat berpotensi menopang dolar, sementara hasil yang lemah dapat kembali menekan Greenback.
Sumber: Newsmaker.id