
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Iran kembali mendesak Amerika Serikat (AS) untuk mencabut blokade laut sebagai bukti keseriusan Washington dalam mengakhiri konflik melalui jalur diplomasi. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada Rabu (21/10/2026) menegaskan bahwa Teheran masih membuka peluang perundingan apabila AS menunjukkan komitmen nyata untuk mencapai kesepakatan damai yang adil dan berkelanjutan. Pernyataan tersebut muncul ketika upaya diplomasi kedua negara mengalami kebuntuan, sementara meningkatnya ancaman militer memunculkan kekhawatiran terhadap kemungkinan eskalasi konflik di Timur Tengah.
Araghchi menegaskan bahwa Iran menginginkan jaminan konkret sebelum melanjutkan pembicaraan dengan Washington, termasuk pencabutan blokade laut dan pemenuhan komitmen yang sebelumnya dibahas dalam proses diplomasi. Iran juga mengaitkan pembukaan kembali Selat Hormuz dengan pemenuhan sejumlah persyaratan tersebut. Di sisi lain, media Iran, Fars News, melaporkan adanya ancaman terhadap tokoh politik AS apabila serangan militer Amerika kembali dilancarkan. Pernyataan tersebut semakin memperlihatkan tingginya ketegangan antara kedua negara, meskipun pintu negosiasi belum sepenuhnya tertutup.
Ketidakpastian keamanan kawasan semakin meningkat setelah koalisi pimpinan Arab Saudi melaporkan berhasil mencegat dan menghancurkan lima drone yang diluncurkan menuju wilayah kerajaan. Sementara itu, militer AS dilaporkan melakukan penyesuaian terhadap penempatan personelnya di sejumlah pangkalan Timur Tengah sebagai bagian dari langkah antisipasi keamanan. Perkembangan tersebut meningkatkan perhatian terhadap stabilitas kawasan Teluk, terutama karena Selat Hormuz merupakan jalur strategis perdagangan energi global. Jika negosiasi AS-Iran terus mengalami kebuntuan, risiko gangguan pengiriman minyak dan meningkatnya biaya energi berpotensi kembali membayangi pasar internasional.