
Trending

Fiskal & Moneter
Sumber: Newsmaker.id
The Fed memasuki pertemuan kebijakan pekan ini di tengah tekanan inflasi yang belum menunjukkan tanda mereda. Pasar secara luas memperkirakan bank sentral AS mempertahankan suku bunga setelah kenaikan pada September, tetapi perhatian investor akan tertuju pada sinyal Ketua The Fed Kevin Warsh mengenai kemungkinan kebijakan berikutnya.
Data inflasi terbaru menunjukkan CPI AS September berada di 3,7% secara tahunan, sementara inflasi inti mencapai 2,6%. Angka tersebut masih berada di atas target inflasi The Fed sebesar 2% dan menunjukkan tekanan harga belum sepenuhnya terkendali.
Tekanan inflasi juga diperkuat oleh kenaikan harga energi. Kondisi tersebut membuat The Fed menghadapi tantangan untuk memastikan inflasi kembali terkendali tanpa memberikan tekanan berlebihan terhadap aktivitas ekonomi.
Di sisi lain, pasar perumahan AS masih menghadapi tekanan akibat suku bunga hipotek yang berada di atas 7%. Pasar tenaga kerja juga menunjukkan kondisi yang tidak sepenuhnya kuat, dengan tingkat PHK rendah tetapi perekrutan tenaga kerja ikut terbatas.
Kondisi tersebut membuat keputusan The Fed menjadi semakin kompleks. Jeda kenaikan suku bunga pada Oktober dapat memberikan waktu bagi bank sentral untuk melihat dampak kebijakan sebelumnya terhadap ekonomi dan kondisi finansial.
Pasar saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Oktober hanya sekitar 10%, sementara probabilitas kenaikan pada Desember berada di atas 80%. Pasar juga melihat kemungkinan kenaikan lanjutan pada 2027, meski waktunya masih menjadi perdebatan.
Sejumlah ekonom berbeda pandangan mengenai langkah yang seharusnya diambil The Fed. Sebagian menilai kenaikan suku bunga diperlukan untuk mengendalikan inflasi, sementara pihak lain memperingatkan bahwa pengetatan lebih lanjut dapat memperburuk tekanan pada sektor perumahan, kredit konsumen, dan kelompok ekonomi yang rentan.
Analisis Newsmaker: Fokus pasar bukan hanya pada keputusan suku bunga, tetapi terutama pada komunikasi Kevin Warsh. Nada hawkish dapat memperkuat dolar dan imbal hasil Treasury sekaligus menekan emas serta aset berisiko. Sebaliknya, sinyal bahwa The Fed ingin menunggu perkembangan data lebih lanjut dapat membuka ruang bagi pasar untuk mengantisipasi jeda kebijakan yang lebih panjang.
Sumber : Newsmaker.id