Upah Riil Jepang Ambruk, Nikkei Tersungkur
Saham Jepang ditutup melemah pada Kamis (8/1) setelah data terbaru menunjukkan upah riil turun pada November 2025 dengan laju tercepat sejak Januari, terutama akibat anjloknya pembayaran bonus satu kali. Sentimen pasar ikut tertekan karena pelemahan upah mempertegas tantangan rumah tangga di tengah tekanan harga yang masih tinggi.
Indeks Nikkei 225 turun 1,6% atau 844,72 poin ke level 51.117,26. Data upah ini memperlihatkan inflasi masih cenderung melampaui pertumbuhan pendapatan, sehingga menambah kompleksitas bagi Bank of Japan yang berencana melanjutkan normalisasi kebijakan dan membuka ruang kenaikan suku bunga tahun ini.
Menurut data Kementerian Tenaga Kerja, upah riil yang disesuaikan inflasi turun 2,8% secara tahunan pada November 2025—setara dengan penurunan pada Januari dan menjadi hasil terburuk sejak September 2023. Pelemahan ini menegaskan daya beli masih tergerus meski nominal pendapatan tidak sepenuhnya runtuh.
Di sisi lain, indikator konsumsi juga melemah. Indeks kepercayaan konsumen turun menjadi 37,2 pada Desember dari 37,5 pada November, mencerminkan pandangan yang lebih hati-hati terhadap kondisi mata pencaharian, lapangan kerja, serta rencana pembelian barang tahan lama, meski ekspektasi kenaikan pendapatan tercatat sedikit membaik.
Pada sektor korporasi, Shin-Etsu Chemical ditutup turun 4% setelah mengumumkan rencana peluncuran teknologi berbasis laser untuk menyederhanakan proses pembuatan chip di bagian back-end, dengan pengiriman uji coba ditargetkan mulai 2027. Sementara itu, GNI Group naik 3,4% usai unitnya, Cullgen, menyampaikan kandidat obat pereda nyeri non-opioid CG001419 diproyeksikan masuk uji klinis Fase 2 pada kuartal II 2026, sekaligus memajukan program penyakit inflamasi baru menuju tahap studi yang mendukung pengajuan IND. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id