Bursa Asia Bersiap Lesu, Powell Tahan Sinyal
Pasar saham Asia diperkirakan akan dibuka melemah pada Rabu (24/9), mengikuti penurunan saham teknologi besar di Wall Street yang memutus reli tiga hari S&P 500. Investor juga masih bingung membaca arah kebijakan suku bunga setelah komentar Ketua The Fed Jerome Powell yang terkesan hati-hati dan tidak memberikan sinyal tegas soal pemangkasan lanjutan.
Powell menegaskan masih ada risiko di pasar tenaga kerja dan inflasi, sehingga bank sentral harus berhati-hati sebelum menurunkan suku bunga lebih agresif. Meskipun The Fed baru saja memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pekan lalu dan memproyeksikan dua kali pemangkasan lagi tahun ini, Powell memilih menjaga fleksibilitas. “Powell tidak terdengar hawkish, tapi juga tidak mau terlihat tunduk pada tekanan politik,” ujar analis TradeStation, David Russell.
Di Wall Street, saham teknologi megacap turun 1,6%, menyeret S&P 500 sedikit melemah meski sebagian besar saham lainnya naik. Sementara itu, imbal hasil obligasi AS 10 tahun turun menjadi 4,11%, dolar berfluktuasi, dan harga emas tetap bertahan di rekor tertinggi. Harga minyak juga melanjutkan kenaikan di tengah kekhawatiran pasokan Rusia akibat serangan Ukraina dan ketegangan dengan NATO.
Meski ada ketidakpastian kebijakan moneter, optimisme pasar tetap terjaga berkat prospek pemangkasan suku bunga lebih lanjut, pertumbuhan laba perusahaan yang solid, serta euforia terhadap saham teknologi yang memanfaatkan tren kecerdasan buatan. Indeks S&P 500 kini diperdagangkan hampir 3% di atas proyeksi rata-rata analis untuk akhir tahun, menandakan tren bullish masih kuat meski risiko koreksi jangka pendek tetap terbuka.(ads)
Sumber: Bloomberg.com