Dolar Balik Arah, Komentar Trump Redam Kekhawatiran Perang
Dolar AS berbalik melemah setelah sebelumnya menguat, usai Presiden Donald Trump menunda rencana serangan ke infrastruktur energi Iran dan menyebut ada pembicaraan “sangat baik” terkait upaya mengakhiri permusuhan. Pernyataan itu meredakan sebagian kecemasan pasar atas eskalasi konflik dan menekan permintaan aset defensif.
Indeks Bloomberg Dollar Spot sempat naik sekitar 0,3% pada awal sesi. Penguatan itu terjadi setelah data CFTC yang dirilis Jumat menunjukkan investor spekulatif berbalik positif terhadap dolar untuk pertama kalinya tahun ini. Namun arah pasar berubah setelah unggahan Trump di media sosial.
Trump sebelumnya memberi ultimatum kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz atau menghadapi serangan ke pembangkit listriknya. Teheran membalas dengan menyatakan akan menutup Hormuz “sepenuhnya.” Ketegangan itu sempat mendorong dolar menguat, tetapi kemudian Trump menulis bahwa terdapat “pembicaraan yang sangat baik dan produktif” antara AS dan Iran—memicu pergeseran sentimen ke arah risk-on terbatas dan mendorong dolar kehilangan momentum.
Di pasar Eropa, EUR/USD naik sekitar 0,4% ke 1,1618. Wakil Presiden ECB Luis de Guindos mengatakan ECB bersiaga terhadap dampak perang Iran terhadap harga. Sementara indikator upah ECB memproyeksikan pertumbuhan gaji tahunan sekitar 2,5% pada kuartal ketiga dan 2,6% pada kuartal keempat—lebih kuat dibanding proyeksi paruh pertama tahun ini, menjadi faktor yang turut memengaruhi ekspektasi kebijakan.
GBP/USD juga bangkit dari level terendah harian 1,3257 dan sempat menguat hingga sekitar 0,7% ke 1,3433. Sebelumnya, pasar bahkan sempat mem-price-in pengetatan kebijakan Bank of England hingga 1% sepanjang 2026 untuk pertama kalinya—menunjukkan betapa sensitifnya ekspektasi suku bunga terhadap shock energi dan inflasi.
Di Asia, USD/JPY sempat naik sekitar 0,3% ke 159,66, namun kemudian berbalik turun sekitar 0,6% ke 158,26. Pergerakan ini terjadi setelah Majelis Tinggi Jepang menyetujui penunjukan dua akademisi yang dikenal reflationary—dipilih oleh PM Sanae Takaichi—untuk menjadi anggota dewan kebijakan Bank of Japan, yang dibaca pasar sebagai sinyal kebijakan bisa lebih pro-inflasi atau lebih toleran terhadap inflasi dalam jangka tertentu.
Inti Newsmaker: dolar kehilangan tenaga karena pasar merespons sinyal de-eskalasi dari Trump. Namun arah USD tetap rapuh dan sangat headline-driven—selama isu Hormuz dan risiko serangan energi belum benar-benar hilang, pergerakan dolar bisa cepat berbalik mengikuti perkembangan terbaru.(yds)
Sumber: newsmaker.id