Dolar Kian Perkasa, Data AS dan Risiko Iran Jadi Penopang
Indeks dolar (DXY) menguat ke 99,121 pada Kamis (5/3), naik sekitar 0,36% dan menjadi level tertinggi sejak pertengahan Januari, ditopang kombinasi permintaan safe-haven di tengah eskalasi konflik Iran serta repricing ekspektasi suku bunga setelah rangkaian data AS yang solid.
Dari sisi data, pasar baru saja menerima data klaim pengangguran mingguan juga menambah narasi “labor market masih stabil”. Initial jobless claims tidak berubah di 213.000 untuk pekan yang berakhir 28 Februari (mendekati ekspektasi), sementara continuing claims naik 46.000 menjadi 1,868 juta, mengindikasikan sebagian pekerja membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali bekerja.
EUR/USD melemah sekitar 0,30% ke 1,1598, memperpanjang tekanan pada euro ketika pasar menilai guncangan energi berisiko menahan pelonggaran moneter lebih cepat, sementara data AS yang kuat memperkuat diferensial imbal hasil ke dolar.
GBP/USD turun sekitar 0,14% ke 1,3358, sejalan dengan penguatan dolar. Sterling ikut sensitif terhadap risiko energi karena inflasi Inggris masih relatif tinggi, sehingga lonjakan harga energi berpotensi menambah kehati-hatian pasar pada prospek suku bunga.
AUD/USD terkoreksi sekitar 0,68% ke 0,7027, mencerminkan tekanan pada mata uang berisiko ketika pasar menggabungkan headline geopolitik dengan narasi “Fed lebih ketat lebih lama” pasca data AS.
USD/JPY naik sekitar 0,45% ke 157,763, dengan yen melemah saat dolar kembali diincar sebagai aset likuid di tengah volatilitas. Pasar tetap memantau risiko intervensi Jepang ketika pergerakan yen menjadi lebih tajam.
USD/CHF menguat sekitar 0,26% ke 0,7814, menandakan franc tidak selalu “menang” saat risk-off ketika dolar menjadi tujuan utama likuiditas global, terlebih saat ekspektasi pemangkasan Fed kian berkurang. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id