Dolar AS Nyaris Datar dalam Sepekan di Tengah Prospek Fed
Dolar AS diperkirakan menutup pekan nyaris tanpa perubahan pada Jumat (7/11), karena investor menyeimbangkan sikap hawkish Federal Reserve dengan kekhawatiran berkelanjutan terhadap ekonomi AS.
Sementara itu, investor menilai dampak dari data yang membunyikan alarm bagi prospek ekonomi global: ekspor China secara tak terduga turun pada Oktober, mencatat penurunan terdalam sejak Februari, setelah berbulan-bulan percepatan pesanan AS untuk menghindari tarif.
Greenback memulai reli lima hari pekan lalu setelah Ketua The Fed Jerome Powell mengakui tingginya risiko dari pelonggaran lebih lanjut, namun anjlok tajam pada Kamis menyusul data ketenagakerjaan yang lemah.
Imbal hasil Treasury AS juga mendatar pada Jumat, setelah turun sehari sebelumnya akibat ketidakpastian ekonomi yang disebabkan perpanjangan penutupan pemerintahan di Washington dan pertanyaan soal legalitas tarif Presiden Donald Trump.
“Dengan pertemuan The Fed bulan Desember nyaris lempar koin yang sangat bergantung pada kondisi pasar tenaga kerja—pasar bereaksi berlebihan terhadap setiap isyarat terkait pasar tenaga kerja AS,” kata Mohit Kumar, ekonom Jefferies, seraya menyoroti minimnya data ekonomi karena penutupan pemerintah masih berlangsung. “Pandangan kami tetap bahwa komentar Powell pada FOMC terakhir menyiratkan ambang untuk pemangkasan Desember itu tinggi,” tambahnya.
Euro naik 0,35% terhadap dolar ke $1,15868, mengungguli mata uang Eropa lain seperti sterling dan franc Swiss. Euro mendapat dukungan dari ekspektasi kebijakan suku bunga yang stabil, sementara AS dan Inggris diperkirakan akan kembali memangkas suku bunga pada 2026. Namun, data China mengindikasikan Beijing kesulitan mendiversifikasi ekspor dari AS tren yang bisa memicu kekhawatiran tekanan China pada pasar Eropa.
Dengan penutupan pemerintah menunda rilis laporan non-farm payrolls bulanan, para trader beralih ke data sektor swasta yang menunjukkan ekonomi kehilangan pekerjaan pada Oktober di sektor pemerintahan dan ritel. Pemangkasan biaya dan adopsi kecerdasan buatan juga mendorong lonjakan PHK.
Barclays memperkirakan awal pekan ini peluang 60% penutupan pemerintah AS yang terpanjang dalam sejarah AS akan berakhir antara 11 hingga 21 November, sementara 15% kemungkinan berlanjut hingga Desember.
Indeks dolar, yang mengukur kekuatan mata uang terhadap enam pasangan utama, turun 0,24% di 99,443. Indeks ini sempat pulih tetapi masih tertahan dalam rentang yang sama sejak Agustus. Arus masuk ke aset safe haven awal pekan ini mendukung dolar AS—yang kembali mendapatkan sebagian daya tariknya sebagai aset aman—meski yen Jepang tetap menjadi andalan defensif pilihan pasar. Pasar saham yang sarat teknologi menuju penurunan mingguan terbesar dalam tujuh bulan, menambah kecemasan pasar.
Dolar naik 0,06% terhadap yen ke 153,12, setelah sempat menyentuh 152,82 di awal sesi—terendah sejak 30 Oktober. Prospek suku bunga tidak banyak membantu karena investor memperkirakan Bank of Japan akan membutuhkan waktu sebelum kembali menaikkan suku bunga.(yds)
Sumber: Reuters.com