Pound Melemah, Minyak dan The Fed Jadi Beban
Poundsterling melemah versus dolar AS pada perdagangan Selasa (7/7) setelah ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat. GBP/USD diperdagangkan di sekitar level 1,3373, turun 0,11% pada hari itu.
Tekanan terhadap pound muncul setelah adanya laporan serangan terhadap dua kapal di Selat Hormuz. Perkembangan ini membuat pasar kembali mencari aset yang lebih aman, sehingga dolar AS tetap mendapat dukungan. Indeks Dolar AS atau DXY naik tipis 0,05% ke level 100,93.
Ketegangan di Hormuz juga mendorong harga minyak naik. Jika harga energi terus meningkat, kekhawatiran inflasi bisa kembali menguat. Kondisi ini dapat membuat Federal Reserve tetap berhati-hati dan membuka peluang mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Dari sisi data ekonomi AS, defisit neraca perdagangan melebar pada Mei menjadi US$77,6 miliar, dari sebelumnya US$54,6 miliar pada April. Pelebaran defisit ini terjadi karena impor meningkat, sementara ekspor menurun. Selain itu, survei ekspektasi konsumen New York Fed menunjukkan ekspektasi inflasi satu tahun naik dari 3,5% pada Mei menjadi 3,7% pada Juni.
Pasar uang kini melihat peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September berada di sekitar 60,42%. Namun, untuk pertemuan 29 Juli, peluang The Fed mempertahankan suku bunga masih mendekati 75%. Dari Inggris, kalender ekonomi relatif sepi, sementara pernyataan Andy Burnham yang berkomitmen pada aturan fiskal membantu meredakan kekhawatiran terhadap tekanan tambahan pada pound. Secara keseluruhan, GBP/USD masih berisiko tertahan selama dolar mendapat dukungan dari geopolitik, minyak, dan ekspektasi suku bunga AS.(arl)
Sumber: Newsmaker.id