Dolar Rebound, Pound Kehilangan Penopang
Sterling bergerak turun pada Kamis (28/5), tertekan penguatan dolar setelah pertukaran serangan militer AS–Iran merusak sisa optimisme pasar terhadap kesepakatan cepat yang dapat membuka kembali Selat Hormuz. Pada 05:20 ET, GBP/USD turun 0,16% ke 1,3405, sementara EUR/USD melemah lebih terbatas 0,09% ke 1,1616.
Latar geopolitik memburuk setelah AS menyerang lokasi militer dekat Bandar Abbas, dan IRGC membalas dengan menargetkan pangkalan udara AS yang disebut sebagai “peringatan serius”. Eskalasi ini mengangkat kembali permintaan dolar sebagai aset aman, sekaligus memperpanjang tekanan pada mata uang berisiko termasuk pound.
Penguatan dolar juga tidak lagi semata karena geopolitik. Data inflasi AS yang lebih panas pada awal Mei telah mengubah pricing pasar terhadap arah suku bunga The Fed, menciptakan “lantai” bagi dolar bahkan ketika ada momen optimisme deal. Dalam kerangka ini, ruang pelemahan dolar menjadi lebih terbatas, sehingga GBP menjadi lebih rentan saat sentimen global berubah.
Di sisi domestik Inggris, risiko politik disebut mereda sehingga sterling makin “terekspos” pada narasi eksternal dolar. Di saat yang sama, jalur disinflasi Bank of England dinilai rumit karena harga minyak yang masih tinggi sejak konflik dimulai, membuat pound kekurangan dukungan struktural dari sisi fundamental inflasi dan kebijakan.
Fokus berikutnya adalah rilis PCE AS April pada Kamis, yang berpotensi mengubah arah dolar jika keluar lebih rendah dari ekspektasi. Pasar juga menantikan risalah rapat ECB dan sinyal menuju kenaikan suku bunga 11 Juni, meski reaksi euro diperkirakan terbatas karena sebagian besar sudah terharga. (Arl)*
Sumber : Newsmaker.id