AI Trade Curi Perhatian dari Pasar Kripto
Bitcoin kembali melemah pada perdagangan Selasa (30/6) dan masih tertahan di bawah level psikologis US$60.000. Tekanan terhadap aset kripto terbesar dunia itu berlanjut seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap suku bunga tinggi Amerika Serikat dan berkurangnya minat investor terhadap aset spekulatif.
Bitcoin saat ini bergerak di sekitar US$58.446, setelah sempat menyentuh level tertinggi intraday di US$60.527 dan level terendah di US$58.135. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa tekanan jual masih cukup kuat, terutama karena investor belum berani kembali agresif masuk ke aset berisiko.
Tekanan utama bagi Bitcoin datang dari ekspektasi kebijakan Federal Reserve. Setelah The Fed memberi sinyal hawkish dalam pertemuan Juni, pasar semakin memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga tahun ini. Lingkungan suku bunga tinggi biasanya menjadi sentimen negatif bagi kripto karena aset seperti Bitcoin tidak memberikan imbal hasil.
Kenaikan yield dan suku bunga membuat investor lebih tertarik pada aset berbasis dolar yang lebih tertarik pada aset berbasis dolar yang menawarkan return lebih jelas. Akibatnya, aset spekulatif seperti kripto cenderung kehilangan daya tarik, terutama ketika dolar AS masih kuat dan pasar global sedang berhati-hati.
Selain faktor suku bunga, Bitcoin juga masih dibebani oleh arus keluar dana dari produk ETF spot. Tekanan institusional ini membuat permintaan terhadap Bitcoin belum pulih sepenuhnya. Dalam beberapa pekan terakhir, investor besar terlihat lebih selektif dan belum kembali masuk secara agresif ke pasar kripto.
Sentimen risiko juga tertahan oleh ketidakpastian geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Meski Washington menyatakan ada peluang pembicaraan lanjutan, Teheran belum memberi komitmen yang jelas terhadap negosiasi. Kondisi ini membuat investor lebih memilih berhati-hati terhadap aset berisiko tinggi.
Di sisi lain, saham-saham artificial intelligence atau AI masih menjadi pilihan utama sebagian investor spekulatif. Meskipun sempat mengalami koreksi, sektor AI tetap dipandang memiliki prospek pertumbuhan kuat. Kondisi ini membuat aliran dana ke kripto terbatas karena modal spekulatif lebih banyak berputar di saham teknologi dan infrastruktur AI.
Perhatian pasar kripto juga tertuju pada perkembangan politik Amerika Serikat. Perusahaan-perusahaan kripto dilaporkan telah menggelontorkan dana besar untuk memengaruhi pemilu sela 2026. Industri ini berupaya mendorong regulasi yang lebih ramah terhadap aset digital, terutama melalui dukungan kepada kandidat dan komite politik yang pro-kripto.
Secara keseluruhan, Bitcoin masih berada dalam fase rapuh. Selama harga belum mampu kembali stabil di atas US$60.000, tekanan jual masih berpotensi berlanjut. Area US$58.000 menjadi support terdekat yang perlu dijaga. Jika level ini ditembus, Bitcoin berisiko turun lebih dalam ke area US$56.500 hingga US$55.000.
Sementara itu, jika dolar AS mulai melemah, yield turun, dan arus keluar ETF mereda, Bitcoin berpeluang mencoba rebound ke area US$60.000 hingga US$61.500. Namun, untuk mengubah sentimen menjadi lebih positif, pasar membutuhkan katalis yang lebih kuat, baik dari sisi kebijakan The Fed, aliran dana institusional, maupun perkembangan regulasi kripto.
Di pasar altcoin, Ethereum juga masih bergerak lemah di sekitar US$1.566,87. BNB berada di sekitar US$545,87, Solana di sekitar US$73,21, XRP di sekitar US$1,035, dan Dogecoin di sekitar US$0,0708. Pergerakan ini menunjukkan bahwa tekanan tidak hanya terjadi pada Bitcoin, tetapi juga menyebar ke sebagian besar pasar kripto. (arl)
Sumber: Newsmaker.id