AS Sita Kapal Iran, Ini yang Terjadi pada Minyak!
Harga minyak dan saham energi menguat setelah Amerika Serikat menyita sebuah kapal Iran di Teluk Oman, melemahkan ketegangan di sekitar Selat Hormuz di tengah blokade yang baru berjalan sekitar sepekan. Presiden Donald Trump mengatakan Angkatan Laut AS menembaki dan mengambil alih kapal tersebut setelah kapal tidak mengindahkan peringatan untuk berhenti saat meninggalkan Hormuz.
Insiden itu terjadi beberapa jam setelah saling balas menyatakan soal kemungkinan perundingan damai di Islamabad. Trump menyebut ada peluang kesepakatan, sementara pihak Iran menyatakan belum ada “prospek yang jelas” untuk mencapai kesepakatan. Delegasi AS, termasuk Wakil Presiden JD Vance dan utusan khusus Steve Witkoff, dijadwalkan berangkat ke Islamabad pada Senin malam untuk pembicaraan Selasa, namun media pemerintah Iran mengutip negosiator yang menepis rencana ikut serta.
Pasar menilai risiko geopolitik masih tinggi menjelang tenggat waktu, namun pelaku pasar belum sepenuhnya mengambil posisi agresif karena pergerakan harga sangat bergantung pada headline terbaru. Chief Investment Officer Karobaar Capital LP Haris Khurshid mengatakan jika situasi berlanjut seperti sekarang, harga naik secara bertahap ke kisaran $105–$115 per barel, namun disertai volatilitas.
Gangguan di Selat Hormuz menjadi fokus karena jalur ini menampung sekitar seperlima arus minyak dunia dan LNG sebelum perang AS-Israel melawan Iran dimulai pada akhir Februari. Data pelacakan yang dihimpun Bloomberg menunjukkan tidak ada kapal yang terpantau melintas pada Minggu, sementara sedikitnya 13 kapal tanker pada Sabtu berbalik arah kembali ke Teluk Persia dan membatalkan upaya keluar.
Di pasar, Brent untuk penyelesaian Juni naik 6,3% menjadi $96,04 per barel pada pukul 08.20 di Singapura, sementara kontrak WTI Mei melonjak 7,4% menjadi $90,03 per barel menjelang kontrak habis pada hari Selasa. Kontrak WTI Juni yang lebih aktif naik 6,7% menjadi $88,10 per barel, di tengah kekhawatiran guncangan pasokan yang dapat menambah tekanan inflasi dan menekan pertumbuhan ekonomi global.(asd)
Sumber: Newsmaker.id