Brent Stabil, Pasar Tunggu Hasil Oman
Harga minyak bergerak stabil menjelang rencana pembicaraan AS–Iran yang digelar Jumat ini. Agenda diplomasi ini meredakan risiko konflik militer dalam waktu dekat, sehingga kekhawatiran gangguan pasokan ikut turun.
Brent bertahan di kisaran $68 per barel setelah sempat turun 2,8% pada Kamis. Sementara WTI diperdagangkan di bawah $64, menandakan pasar masih hati-hati menunggu arah hasil perundingan.
Sebelumnya, harga sempat melemah setelah Presiden AS Donald Trump menyebut Iran sedang bernegosiasi. Namun, pasar lalu mendapat “penahan” setelah Arab Saudi memangkas harga jual ke pembeli Asia lebih kecil dari perkiraan, yang dibaca sebagai sinyal Saudi masih percaya permintaan tidak lemah.
Meski begitu, minyak masih mengarah ke penurunan mingguan pertama sejak pertengahan Desember. Ini menunjukkan sebagian risk premium (premi risiko) akibat ketegangan Timur Tengah mulai terkikis—padahal kawasan ini memasok sekitar sepertiga minyak dunia.
Menurut Samantha Hartke dari Vortexa, pasar sedang “mengurangi” premi geopolitik dan balik fokus ke fundamental: pasokan saat ini dinilai cukup memadai. Tapi ia mengingatkan, kalau negosiasi AS–Iran memburuk, premi risiko bisa cepat balik naik.
Di luar isu Iran, pasar juga memantau perkembangan lain: dalam pembicaraan yang melibatkan AS, Ukraina, dan Rusia, disebut ada kesepakatan tukar tahanan pertama dalam lima bulan. Proses menuju de-eskalasi konflik ini ikut membantu menenangkan sentimen risiko global.
Sementara dari sisi industri, BP dikabarkan mencari mitra untuk meningkatkan produksi dan berbagi biaya di ladang minyak Kirkuk, Irak. Pada perdagangan di Singapura, Brent April naik sekitar 0,4% ke $67,82, dan WTI Maret naik 0,5% ke $63,58—pasar menunggu apakah hasil negosiasi bakal menekan harga lebih jauh atau justru memunculkan lagi premi risiko.(asd)
Sumber: Newsmaker.id