Minyak Melemah, Efek Iran Reda & India Jadi Kunci
Harga minyak kembali melemah pada Selasa (3/2), memperpanjang penurunan untuk hari ketiga karena pasar mulai “melepas” premi risiko geopolitik. Update terbaru menunjukkan Brent turun lebih dari 1% ke $65,96/barel, sementara WTI turun 1,5% ke $61,81/barel pada perdagangan Eropa.
Pendorong utamanya adalah meredanya kekhawatiran konflik kawasan setelah Donald Trump menyatakan pembicaraan dengan Iran soal kesepakatan nuklir baru bisa dimulai dalam beberapa hari, dengan rencana pertemuan lanjutan yang disebut mengarah ke pekan ini. Ketika risiko eskalasi dianggap mengecil, “asuransi” harga yang biasanya menempel di minyak ikut menipis.
Di saat yang sama, pasar juga menunggu kepastian detail terkait potensi kesepakatan dagang AS–India yang bisa berdampak langsung ke arus pasokan global. Trump menyebut tarif India dapat diturunkan jika Narendra Modi setuju menghentikan pembelian minyak Russia—meski klaim ini belum sepenuhnya dikunci dari sisi New Delhi. Isu ini penting karena pengiriman minyak Rusia ke India dilaporkan sudah turun mendekati level terendah lebih dari tiga tahun, yang berpotensi menambah “stok barel tersanksi” yang sulit terserap di pasar.
Faktor lain yang ikut menekan adalah dolar AS yang cenderung menguat, yang membuat komoditas berdenominasi dolar relatif lebih mahal bagi pembeli non-dolar. Di tengah kondisi geopolitik yang lebih tenang, pasar kembali menonjolkan narasi lama: kekhawatiran pasar minyak berhadapan dengan pasokan yang longgar/berlebih, sehingga reli bulan lalu mulai terlihat rapuh.
Bulan lalu, harga sempat terdorong oleh gangguan pasokan (termasuk dari Kazakhstan) dan premi risiko geopolitik. Namun pada awal pekan ini, minyak ikut terseret aksi jual komoditas yang lebih luas—terutama setelah gejolak besar di logam—yang membuat pelaku pasar cepat mengurangi posisi bullish. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id