• Tue, Jan 20, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Indonesia News Portal for Traders | Financial & Business Updates

20 January 2026 15:59  |

Minyak Menguat Tipis Usai Optimisme Data China

Harga minyak naik pada Selasa (20/1) setelah data pertumbuhan ekonomi China yang lebih kuat dari perkiraan memicu optimisme permintaan. Namun pasar juga tetap waspada, karena Presiden AS Donald Trump kembali mengancam akan menaikkan tarif impor AS untuk sejumlah negara Eropa, seiring ambisinya ingin “membeli” Greenland.

Kontrak berjangka Brent naik 19 sen (0,3%) ke $64,13 per barel pada pukul 01.00 GMT. Sementara itu, kontrak minyak mentah AS WTI Februari—yang jatuh tempo pada Selasa—naik 25 sen (0,4%) dari penutupan Jumat ke $59,69. Kontrak WTI Maret yang lebih aktif diperdagangkan naik 0,08 sen (0,13%) ke $59,42. WTI tidak mencatat settlement pada Senin karena libur Martin Luther King Jr. Day di AS.

Menurut analis pasar IG, Tony Sycamore, WTI bergerak naik tipis dan mendapat dukungan dari data PDB China kuartal IV 2025 yang lebih baik dari ekspektasi. Ia menilai ketahanan ekonomi China—sebagai importir minyak terbesar dunia—ikut mengangkat sentimen permintaan global.

Data yang dirilis Senin menunjukkan ekonomi China tumbuh 5,0% sepanjang tahun lalu, sesuai target pemerintah. Pertumbuhan ini didorong strategi mendorong ekspor dan merebut porsi permintaan global barang, untuk menutupi konsumsi domestik yang masih lemah. Strategi itu sempat meredam dampak tarif AS, tapi dinilai makin sulit dipertahankan.

Dari sisi industri energi, laju pemrosesan kilang (refinery throughput) China pada 2025 naik 4,1% (yoy), sementara produksi minyak mentah meningkat 1,5%. Keduanya disebut mencapai rekor tertinggi sepanjang masa, memperkuat narasi bahwa aktivitas energi China tetap kencang.

Di sisi lain, ketegangan dagang kembali memanas pada akhir pekan. Trump mengatakan AS akan mengenakan tarif tambahan 10% mulai 1 Februari untuk barang impor dari Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, dan Inggris. Tarif itu bahkan bisa naik menjadi 25% mulai 1 Juni bila tidak ada kesepakatan terkait Greenland.

Sycamore juga menambahkan, pelemahan dolar AS ikut memberi “angin belakang” untuk harga minyak. Dolar turun sekitar 0,3% terhadap mata uang utama lainnya, dan dolar yang melemah biasanya membuat minyak (yang dihargai dalam dolar) lebih murah bagi pembeli di luar AS.

Pasar juga memantau sektor minyak Venezuela setelah Trump menyatakan AS akan “menjalankan” industri tersebut menyusul penangkapan Presiden Nicolas Maduro. Sementara itu, sumber perdagangan menyebut Vitol menawarkan minyak Venezuela ke pembeli China dengan diskon sekitar $5 per barel terhadap ICE Brent untuk pengiriman April.

Terakhir, China dikabarkan mengimpor minyak mentah Urals Rusia paling banyak sejak 2023, dengan harga lebih murah dibanding minyak Iran. Ini terjadi setelah pembeli besar seperti India mengurangi impor tajam karena sanksi Barat, dan menjelang larangan Uni Eropa terhadap produk yang dibuat dari minyak Rusia—berdasarkan sumber perdagangan dan data pengiriman.(yds)

Sumber: Reuters.com

Related News

OIL

Harga Minyak Naik Dua Hari Beruntun, Ditopang Optimisme Daga...

Minyak naik untuk hari kedua di tengah optimisme atas perundingan perdagangan AS menjelang batas waktu minggu depan, dan kare...

25 July 2025 10:56
OIL

Brent Terombang-ambing, Pasar Bingung Antara Sanksi dan Paso...

Harga minyak mengalami pergerakan yang tidak stabil pada hari Selasa (15/07), di tengah ketidakpastian pasar atas dampak kebi...

15 July 2025 21:42
OIL

Minyak Dunia Tertahan

Harga minyak sedikit berubah setelah mengalami penurunan beberapa minggu yang lalu, dengan hubungan pedagang dampak dari sank...

22 September 2025 07:39
OIL

Greenland & Tarif Trump Bikin Market Minyak Waspada

Harga minyak cenderung stabil di sesi Asia pada Senin setelah pekan lalu bergerak liar karena isu risiko pasokan Iran. Fokus ...

19 January 2026 10:48
BIAS23.com NM23 Ai