Trump Rem Serangan Ke Iran, Minyak Kena “U-Turn”
Harga minyak turun tajam pada Kamis (15/1), mencatat penurunan terdalam sejak Oktober, setelah Presiden AS Donald Trump memberi sinyal bahwa opsi serangan cepat ke Iran kemungkinan ditahan dulu. Pernyataan itu langsung “mengempiskan” premi risiko yang sempat mengangkat harga dalam sepekan terakhir.
Di perdagangan terbaru, Brent bergerak di sekitar US$63,7/barel (turun >4%), sementara WTI berada di kisaran US$59,8–60,5/barel.
Pasar menilai peluang gangguan pasokan dari Iran dan jalur pelayaran strategis di kawasan Teluk mengecil setelah Trump menyebut ia mendapat informasi bahwa kekerasan terkait penindakan protes di Iran mereda, sehingga urgensi respons militer AS ikut turun.
Padahal, sehari sebelumnya tensi sempat terlihat menuju skenario yang lebih panas: Iran sempat menutup wilayah udaranya, sementara muncul laporan penyesuaian penempatan personel AS di kawasan. Rangkaian headline itu sempat membuat pasar memosisikan diri untuk eskalasi, sebelum kemudian dibalik oleh komentar Trump.
Selain faktor geopolitik, tekanan juga datang dari sisi fundamental. Laporan persediaan AS menunjukkan stok minyak naik lebih besar dari perkiraan, menambah alasan pasar untuk mengunci profit setelah reli tajam.
Volatilitas beberapa hari terakhir juga diperbesar oleh arus pasar derivatif: posisi spekulatif dan aktivitas opsi ikut memperlebar ayunan harga—baik saat naik maupun saat berbalik turun.
Meski demikian, pelaku pasar menilai cerita minyak belum benar-benar selesai. Selain Iran dan Venezuela, risiko suplai juga sempat muncul dari wilayah Laut Hitam, membuat sensitivitas harga terhadap headline tetap tinggi. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id