Harga Minyak Jeblok, Sentimen Berbalik Bearish
Harga minyak terjun tajam pada Kamis (15/1), setelah pasar “memangkas” premi risiko Iran menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menilai eskalasi bisa ditahan. Sentimen bearish makin tebal karena stok minyak AS melonjak dan ada harapan suplai tambahan dari Venezuela.
Pada perdagangan sesi Eropa, Brent turun ke sekitar US$64,8/barel, sementara WTI melemah ke kisaran US$60,5/barel (penurunan >2%).
Sebelumnya, kontrak juga sempat tercatat turun lebih dalam hingga Brent ~US$64,31 dan WTI ~US$59,97 pada sesi Asia.
“Premi Iran” dipangkas
Minyak kehilangan tenaga setelah Trump menyampaikan bahwa pembunuhan/aksi keras dalam penindakan protes di Iran disebut mulai berhenti, sehingga kekhawatiran pasar terhadap peluang aksi militer AS—dan potensi gangguan pasokan—ikut mereda.
Sebelumnya, ketegangan sempat meningkat setelah muncul sinyal ancaman balasan Iran terhadap pangkalan AS jika Washington melakukan serangan. AS pun dilaporkan menarik sebagian personel dari pangkalan di Timur Tengah sebagai langkah antisipasi.
Data stok AS menambah tekanan
Dari sisi fundamental, laporan terbaru EIA memperlihatkan stok minyak mentah AS naik 3,4 juta barel menjadi sekitar 422,4 juta barel untuk pekan yang berakhir 9 Januari—berlawanan dengan ekspektasi pasar yang semula memperkirakan penurunan stok.
Stok bensin juga naik, memperkuat kesan bahwa pasokan masih relatif longgar dan menekan harga.
Venezuela ikut jadi faktor bearish
Tekanan tambahan datang dari kabar bahwa ekspor minyak Venezuela mulai bergerak lagi dan perusahaan minyak negara setempat disebut mulai membalikkan sebagian pemangkasan produksi yang sebelumnya dilakukan di bawah pembatasan/embargo AS.
Tapi demand masih jadi penahan
Di sisi permintaan, OPEC melihat pertumbuhan permintaan masih berlanjut hingga 2027 dan menilai keseimbangan pasar 2026 relatif dekat seimbang, berbeda dengan sebagian proyeksi lain yang menilai surplus besar.
Sementara itu, data pemerintah China menunjukkan impor minyak mentah Desember melonjak dan laju impor harian mencapai rekor, memberi bantalan pada prospek permintaan Asia. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id