• Sat, Mar 21, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

20 March 2026 22:13  |

Emas Tertekan Beruntun, Arus Keluar ETF dan Yield-Dolar Menambah Beban

Harga emas kembali melemah dan memperpanjang tren turun sejak pecahnya perang Iran, meski logam mulia ini biasanya dipandang sebagai aset lindung nilai. Emas tercatat turun setiap pekan sejak AS dan Israel menyerang Iran bulan lalu, seiring pasar lebih fokus pada lonjakan energi yang mengangkat risiko inflasi dan mengubah ekspektasi suku bunga.

Tekanan utama datang dari penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil Treasury, yang meningkatkan biaya peluang memegang emas karena tidak memberikan imbal hasil. Di saat yang sama, sebagian investor menjual emas untuk menutup kerugian di aset lain, membuat pergerakan emas semakin rapuh ketika volatilitas pasar meningkat.

Sinyal kebijakan moneter ikut memperkuat tekanan. Federal Reserve menahan suku bunga pada pertemuan pertengahan pekan, dan Ketua The Fed Jerome Powell menekankan pelonggaran baru membutuhkan kemajuan nyata dalam penurunan inflasi. Komunikasi ini menahan harapan pemangkasan cepat, sehingga mendukung dolar dan yield—dua faktor yang biasanya negatif bagi emas.

Arus dana juga bergerak berlawanan dengan narasi safe-haven. ETF berbasis emas diperkirakan mencatat minggu ketiga arus keluar beruntun, dengan kepemilikan turun lebih dari 60 ton dalam periode tersebut, dan total kepemilikan global menghapus seluruh tambahan sejak awal tahun. Sensitivitas ETF terhadap suku bunga membuat arus keluar cenderung berlanjut ketika pasar mem-price in kebijakan lebih ketat lebih lama.

Meski koreksi tajam, emas masih sekitar 5% lebih tinggi sepanjang tahun ini setelah sempat menyentuh rekor mendekati US$5.600 pada akhir Januari, ditopang antusiasme investor, pembelian bank sentral, serta kekhawatiran terhadap independensi The Fed. JPMorgan Private Bank menilai lonjakan awal saat konflik memanas menunjukkan fungsi lindung nilai geopolitik emas masih ada, tetapi fokus pasar dapat bergeser dari inflasi ke risiko resesi jika perang berlarut—kondisi yang berpotensi menghidupkan kembali daya tarik safe-haven emas.

Pada perdagangan New York, emas turun 1,7% ke US$4.569,23 dan mengarah ke penurunan delapan hari beruntun, terpanjang sejak Oktober 2023. Pelemahan itu menarik RSI 14 hari ke bawah 35, mendekati area yang sebagian pelaku pasar anggap “oversold”, meski volatilitas yang tinggi membuat pasar masih rentan terhadap tekanan jual lanjutan. (asd)

Sumber : Newsmaker.id

Related News

GOLD

Harga Emas Melemah, Pasar Tunggu Keputusan The Fed

Harga emas dunia (XAU/USD) bergerak melemah di sekitar $3.335 per ons pada awal sesi Eropa hari Senin, setelah sempat mencoba...

28 July 2025 16:23
GOLD

Setelah Melambung, Emas Kini Terancam Tenggelam?

Harga emas batangan bergerak melemah dan diperkirakan mencatat kerugian mingguan kedua berturut-turut setelah pasar global me...

27 June 2025 12:22
GOLD

Di Tengah Pasar Sepi, Emas Melemah Tajam, Ada Apa?

Harga emas melemah sekitar 1,5% pada sesi Asia hari ini, meskipun aktivitas pasar regional cenderung terbatas karena libur Ta...

16 February 2026 12:41
GOLD

Bitcoin Jebol, Emas Kena Getahnya

Emas melemah di awal sesi Asia Kamis, ikut terseret gelombang jual yang bermula dari pasar kripto. Spot gold turun ke kisaran...

6 February 2026 07:16
BIAS23.com NM23 Ai