Emas Anjlok 5%: Dolar & Yield Menguat, Premi Risiko Perang Tergeser
Harga emas jatuh lebih dari 5% dan mengakhiri reli empat hari, setelah penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi mengalahkan daya tarik emas sebagai aset safe haven di tengah eskalasi konflik Timur Tengah.
Tekanan jual juga diperparah oleh pelemahan tajam pasar saham pada Selasa (3/2), yang memaksa sebagian investor melikuidasi posisi logam mulia untuk memenuhi margin call di bagian lain portofolio mereka. Pandangan ini disorot oleh sejumlah ahli strategi komoditas dari Societe Generale SA dan MKS PAMP SA.
Di sisi lain, lonjakan harga energi memunculkan kekhawatiran inflasi akan kembali memanas. Kondisi itu bisa membuat Federal Reserve menahan suku bunga tetap tinggi lebih lama. Meski emas secara historis kerap dianggap sebagai pelindung inflasi, suku bunga yang lebih tinggi biasanya menekan logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil—terlebih saat dolar ikut menguat.
Indeks pengukur dolar AS (greenback) tercatat naik sekitar 1,5% sepanjang pekan ini, sementara yield Treasury AS tenor 2 tahun mendekati level tertinggi tahun ini pada Selasa. Pasar kini menilai peluang pemangkasan suku bunga Fed tahun ini jauh lebih kecil: ekspektasi bergeser menjadi sekitar lebih dari satu kali pemangkasan 25 bps, setelah sebelumnya sempat mem-price-in dua kali pemangkasan penuh pada Jumat.
“Pengalaman tahun 2022—ketika perang Ukraina mendorong harga minyak naik dan memicu inflasi global—kemungkinan menjadi cetak biru situasi saat ini,” tulis Thu Lan Nguyen, Head of FX & Commodity Research di Commerzbank AG. Saat itu, Fed merespons lebih awal dengan menaikkan suku bunga, dolar menguat, dan emas cenderung melemah sepanjang tahun.
Pada perdagangan spot, emas turun 4,5% ke $5.082,22 per ons (pukul 10:52 pagi waktu New York). Perak anjlok 7,8% ke $82,36, sementara platinum dan palladium ikut tertekan.
Volatilitas logam mulia sudah tinggi berbulan-bulan terakhir, seiring reli tajam tahun ini—baik emas maupun perak sempat mencetak rekor—dan pergerakan intraday yang liar membuat sebagian perusahaan trading mendekati batas risiko maksimum yang diizinkan.
Di awal pekan, emas sempat menguat ketika investor menghindari aset berisiko, dan skala perang melebar pada Selasa. Presiden AS Donald Trump menyatakan AS akan melanjutkan ofensif militer “selama diperlukan”, sementara Israel mengumumkan “gelombang serangan” yang menargetkan pusat komando Iran. Teheran dilaporkan menyerang infrastruktur minyak dan gas serta mengancam jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Bahkan sebelum serangan AS–Israel pada akhir pekan, sinyal tekanan inflasi AS sudah terlihat: harga input manufaktur pada Februari melonjak pada laju tercepat sejak 2022, berdasarkan indikator Institute for Supply Management (ISM). CEO JPMorgan Chase, Jamie Dimon, juga memperingatkan inflasi bisa menjadi “skunk at a party” bagi ekonomi AS—gangguan yang merusak suasana.
Meski terkoreksi tajam, emas masih naik lebih dari 25% sepanjang tahun ini, ditopang ketegangan geopolitik dan perdagangan, serta kekhawatiran atas independensi Fed. Kebangkitan ketakutan terhadap inflasi dan pelemahan nilai mata uang juga memberi dorongan baru bagi reli jangka panjang.
Swiss private bank Union Bancaire Privee (UBP SA) menilai masih ada “ruang yang luas” bagi emas untuk menantang rekor di atas $5.595 per ons yang tercetak pada akhir Januari, jika konflik Timur Tengah berlanjut selama beberapa pekan. Pada Senin, emas juga ditutup di level tertinggi dalam lebih dari satu bulan.
Selain mengganggu pasokan energi, perang juga menciptakan hambatan pada aliran fisik logam mulia. Uni Emirat Arab—salah satu jalur utama perdagangan emas global—menutup wilayah udaranya pada akhir pekan, sementara sejumlah maskapai menghentikan operasi di kawasan Teluk. Dampaknya, pengiriman emas dan perak yang biasa dibawa di ruang kargo pesawat penumpang ikut tertahan.
Beberapa perwakilan perusahaan perdagangan dan logistik menyebut pengiriman logam ke dan dari Dubai kini dihentikan tanpa batas waktu. Pengiriman lewat jalur darat menuju bandara lain di kawasan juga dinilai berisiko tinggi karena membawa komoditas bernilai besar, menurut sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id