Menjelang Keputusan BI, IHSG Masih Bergerak di Zona Merah
IHSG melanjutkan pelemahan dan turun ke kisaran 7.518 di tengah sikap pasar yang cenderung hati-hati menunggu arah kebijakan Bank Indonesia. Sentimen domestik saat ini memang lebih sensitif karena Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia untuk periode April 2026 resmi dimulai pada Selasa-Rabu, 21–22 April 2026. Jadwal tersebut sudah tercantum dalam kalender resmi Bank Indonesia, sehingga perhatian investor kini tertuju pada kemungkinan sinyal lanjutan terkait suku bunga, stabilitas rupiah, dan prospek pertumbuhan ekonomi.
Tekanan di pasar saham juga muncul saat investor memilih menahan posisi menjelang hasil rapat. Pada pertemuan sebelumnya, yaitu RDG 16–17 Maret 2026, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di level 4,75%, dengan Deposit Facility 3,75% dan Lending Facility 5,50%. Sikap ini menunjukkan fokus BI masih tertuju pada keseimbangan antara menjaga inflasi, stabilitas nilai tukar rupiah, dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Karena itu, pasar kini mencoba membaca apakah BI akan tetap mempertahankan suku bunga atau mulai memberi ruang kebijakan yang lebih longgar ke depan.
Di luar faktor domestik, pelaku pasar juga tetap dibayangi ketidakpastian global yang belum sepenuhnya mereda. Bank Indonesia sendiri dalam pembaruan resminya beberapa hari terakhir menyoroti bahwa ketidakpastian global masih tinggi, termasuk lewat pembahasan pada forum IMF-World Bank dan kerja sama G20 maupun BRICS. Artinya, pelemahan IHSG bukan hanya dipengaruhi agenda RDG semata, tetapi juga karena investor masih berhati-hati menghadapi kombinasi tekanan eksternal dan penantian arah kebijakan domestik.
Untuk jangka pendek, fokus pasar akan tertuju pada hasil RDG hari kedua dan bagaimana nada pernyataan Bank Indonesia setelah rapat berakhir. Bila BI mempertahankan suku bunga sambil memberi pesan stabil terhadap inflasi dan rupiah, tekanan di IHSG bisa mulai mereda. Namun bila pernyataannya terkesan lebih waspada terhadap gejolak global, pasar saham domestik berpotensi tetap bergerak hati-hati meski tekanan jual mulai terbatas.
Penyebab :
Investor menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 21–22 April 2026.
BI sebelumnya mempertahankan BI-Rate di 4,75%, sehingga pasar kini menanti arah kebijakan berikutnya.
Ketidakpastian global masih tinggi dan ikut memengaruhi sentimen pasar domestik.
Pelaku pasar cenderung menahan posisi sambil menunggu kejelasan sikap BI terhadap inflasi, rupiah, dan pertumbuhan. Ini merupakan inferensi yang didukung oleh jadwal RDG dan sikap kebijakan BI sebelumnya.(Zaf)
Sumber: Newsmaker.id