Suku Bunga Bank Indonesia Diperkirakan Tetap, Rupiah dan Inflasi Masih Jadi Perhatian
Bank Indonesia diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan di 4,75% sepanjang 2026, seiring meningkatnya risiko inflasi akibat perang Iran yang kembali mendorong tekanan harga energi global. Dalam polling Reuters yang terbit 20 April 2026, mayoritas ekonom menilai BI masih akan memilih sikap hati-hati karena lonjakan harga minyak dapat memperumit upaya menjaga stabilitas inflasi dan nilai tukar rupiah.
Sikap hati-hati itu sejalan dengan keputusan BI sebelumnya. Dalam rilis resmi 19 Februari 2026, Bank Indonesia menegaskan BI-Rate tetap di 4,75%, dengan fokus utama pada stabilisasi rupiah di tengah ketidakpastian global yang tinggi, sekaligus tetap mendukung pertumbuhan ekonomi. Artinya, bahkan sebelum polling terbaru Reuters keluar, arah kebijakan BI memang sudah menunjukkan preferensi untuk menahan suku bunga dibanding terlalu cepat melonggarkan kebijakan.
Alasan utamanya kini makin jelas: perang Iran memperbesar risiko inflasi impor, terutama melalui jalur energi dan logistik. Reuters juga melaporkan bank sentral lain di kawasan Asia mulai menyesuaikan kewaspadaannya terhadap dampak konflik Timur Tengah, sementara IMF telah memangkas proyeksi pertumbuhan global 2026 dan menaikkan proyeksi inflasi global akibat gangguan energi dari perang tersebut. Bagi Indonesia, kondisi seperti ini membuat ruang pemangkasan suku bunga menjadi jauh lebih sempit.
Kesimpulannya, pesan pasar saat ini cukup tegas: BI kemungkinan masih akan mengutamakan stabilitas daripada pelonggaran. Selama harga energi tetap rawan naik, rupiah masih sensitif, dan inflasi global belum benar-benar jinak, BI diperkirakan akan menahan BI-Rate di 4,75% lebih lama. Ini adalah inferensi yang didukung oleh polling Reuters terbaru, keputusan resmi BI sebelumnya, dan memburuknya risiko inflasi global akibat konflik Timur Tengah.(Zaf)
Sumber: Newsmaker.id