Emas Mulai Terkoreksi Setelah Reli Panjang, Bakalan Junam ?
Harga emas dunia mulai menunjukkan tanda-tanda koreksi setelah reli tajam dalam beberapa pekan terakhir. Meski sempat menembus level psikologis US$4.000 per troy ounce, kini emas terlihat bergerak hati-hati di tengah penguatan dolar AS dan meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah.
Analis pasar memandang, tren pelemahan kali ini lebih disebabkan oleh faktor teknikal setelah reli panjang, sementara faktor fundamental jangka menengah masih mendukung penguatan logam mulia tersebut.
Faktor Fundamental: Emas Tertekan Dolar, Tapi Didukung Ketidakpastian Global
Beberapa faktor mendasari pergerakan emas hari ini. Penguatan dolar AS setelah komentar hawkish dari pejabat Federal Reserve menekan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai. Yield obligasi AS juga meningkat, sehingga menambah tekanan karena biaya peluang memegang emas menjadi lebih tinggi.
Namun di sisi lain, permintaan emas global masih kuat, terutama dari bank sentral dan investor institusi yang mencari perlindungan terhadap ketidakpastian ekonomi dan risiko geopolitik.
“Secara struktural, permintaan emas masih solid. Namun, reli yang terlalu cepat membuka ruang koreksi sehat sebelum melanjutkan tren naiknya,” ujar analis pasar dari Morgan Stanley dalam laporan pekanannya, dikutip Solid News Market Update.
Selain itu, membaiknya hubungan dagang Amerika Serikat dan Tiongkok turut meredakan sebagian permintaan terhadap aset safe haven. Setelah pertemuan Trump dan Xi Jinping di Malaysia, kedua pihak sepakat untuk memperluas dialog ekonomi dan mengkaji ulang tarif impor strategis — sebuah langkah yang dianggap positif bagi stabilitas global, namun sedikit menekan harga emas jangka pendek.
Analisa Teknikal: Koreksi Sehat di Tengah Tren Utama yang Masih Positif
Secara teknikal, harga emas saat ini bergerak di kisaran US$3.980–US$4.050 per troy ounce. Level US$3.950 menjadi support kuat yang menahan penurunan lebih dalam, sementara US$4.100–US$4.200 menjadi zona resistance yang sulit ditembus tanpa katalis baru.
Beberapa analis melihat pola “overstretched uptrend” yang mengindikasikan potensi koreksi jangka pendek.
“Jika harga gagal bertahan di atas US$4.000, koreksi menuju US$3.850–3.900 menjadi sangat mungkin. Namun bila berhasil menembus US$4.100, peluang menuju rekor baru akan terbuka kembali,” tulis MarketPulse dalam analisis teknikalnya.
Indikator RSI juga menunjukkan kondisi overbought pada timeframe harian, mendukung potensi konsolidasi sebelum tren bullish berlanjut.
Kombinasi Fundamental dan Teknikal: Fase Konsolidasi Sebelum Arah Baru
Kombinasi antara fundamental yang masih mendukung (permintaan emas, ketidakpastian ekonomi global, dan kebijakan moneter longgar) serta teknikal yang menunjukkan kejenuhan reli, membuat pergerakan emas saat ini cenderung ke fase konsolidasi.
Investor jangka menengah masih melihat potensi kenaikan apabila The Fed benar-benar mulai melonggarkan kebijakan moneter di akhir tahun. Namun untuk jangka pendek, tekanan dari penguatan dolar bisa menahan laju penguatan emas.
“Pasar emas kini berada di titik keseimbangan baru — antara ekspektasi pemangkasan suku bunga dan realitas pasar uang yang masih mengetat,” kata analis Bloomberg Economics.
Kesimpulan
Fundamental: Masih positif dalam jangka menengah, tetapi momentum jangka pendek tertahan oleh dolar kuat dan yield tinggi.
Teknikal: Harga dalam fase koreksi sehat, support di US$3.950 dan resistance di US$4.100.
Outlook: Konsolidasi jangka pendek, peluang rebound tetap terbuka jika The Fed memberi sinyal dovish.
Emas masih menjadi instrumen utama bagi investor yang menghindari volatilitas saham dan mata uang, namun pasar kini lebih selektif menunggu arah kebijakan moneter global berikutnya.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id