Minyak Dunia Bangkit! Ada Apa di Balik Keputusan Rahasia OPEC+?
Harga minyak mentah dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu malam, setelah sempat melemah tajam dalam beberapa hari terakhir. Kenaikan ini didorong oleh keputusan OPEC+ untuk menahan laju peningkatan produksi, serta meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap risiko gangguan pasokan di Timur Tengah.
Harga Brent crude naik sekitar 1,2% ke level US$62,50 per barel, sementara WTI (West Texas Intermediate) naik 1,2% ke US$58,25 per barel. Meski masih berada di dekat level terendah lima bulan terakhir, pergerakan hari ini menandai potensi awal pemulihan harga minyak dunia.
Kenaikan harga minyak hari ini terutama dipicu oleh keputusan Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC+) yang sepakat untuk menaikkan produksi dengan laju lebih lambat dari perkiraan pasar. Langkah ini memberikan sinyal bahwa kelompok produsen utama siap menyesuaikan suplai untuk menjaga stabilitas harga.
Selain itu, meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah — termasuk potensi gangguan ekspor dari Iran dan risiko jalur pelayaran di Laut Merah — menambah kekhawatiran terhadap pasokan global. Investor pun kembali melakukan pembelian aset energi untuk mengantisipasi potensi disrupsi jangka pendek.
“Pasar mulai merespons kekhawatiran terhadap keamanan pasokan di kawasan penghasil minyak, meski fundamental jangka menengah masih menunjukkan potensi surplus,” kata analis energi dari Saxo Bank, Ole Hansen, dikutip dari Reuters.
Di sisi lain, prospek permintaan energi juga memberikan dukungan terhadap harga. Menjelang musim dingin di belahan bumi utara, konsumsi bahan bakar diperkirakan meningkat, terutama di Eropa dan Amerika Serikat.
Selain itu, pelonggaran kebijakan perdagangan antara AS dan Tiongkok juga memberi harapan terhadap peningkatan aktivitas industri dan transportasi global.
“Pasar minyak kini berada di fase keseimbangan baru — meskipun pasokan jangka pendek cukup longgar, ekspektasi pemulihan permintaan mulai terlihat,” tulis laporan Standard Chartered Energy Outlook.
Secara teknikal, harga minyak menunjukkan sinyal rebound setelah menguji area support kuat.
Untuk Brent, area support berada di US$60–61 per barel, sementara resistance terdekat di US$63–64.
Untuk WTI, support berada di US$55–56 per barel dengan resistance di US$58,50–59,20.
Kenaikan di atas level tersebut membuka potensi penguatan menuju US$65 per barel untuk Brent dalam jangka pendek, terutama jika data stok minyak mentah AS pekan ini menunjukkan penurunan persediaan.
Indikator teknikal seperti RSI juga mulai keluar dari area oversold, memberi sinyal potensi pembalikan arah (trend reversal) setelah tekanan jual yang intens selama dua pekan terakhir.
Meskipun rebound hari ini menandakan pemulihan jangka pendek, analis memperingatkan bahwa sentimen pasar masih rentan terhadap perkembangan geopolitik dan arah kebijakan OPEC+ ke depan.
Jika ketegangan di Timur Tengah terus meningkat atau data permintaan global membaik, harga minyak berpotensi menembus level US$65 per barel. Namun jika pasokan kembali melimpah dan dolar AS menguat, tekanan jual bisa kembali membayangi.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id