Pasar Panik Usai Komentar The Fed dan Sinyal Damai Dagang AS–China
Harga emas dunia (loco gold) jatuh lebih dari 6% pada hari Selasa, 21 Oktober 2025, menyentuh level terendah dua minggu terakhir di bawah US$4.050 per ons setelah sempat mencetak rekor di atas US$4.300 hanya beberapa hari sebelumnya.
Ini adalah penurunan harian paling tajam sejak 2020.
1. Pernyataan Hawkish dari FOMC Member Waller
Pemicu pertama datang dari pidato anggota The Fed, Christopher Waller, yang menegaskan bahwa meskipun inflasi mulai melandai, pemangkasan suku bunga harus dilakukan dengan sangat hati-hati.
Komentarnya ini mematahkan ekspektasi pasar yang sempat berharap The Fed akan memangkas suku bunga hingga 50 basis poin dalam dua pertemuan terakhir tahun ini.
Akibatnya, dolar AS menguat tajam dan imbal hasil (yield) obligasi AS 10 tahun kembali menembus 4,7%, memicu arus keluar besar-besaran dari emas yang tidak memberikan imbal hasil.
2. Isyarat Positif dari Hubungan Dagang AS–China
Faktor kedua datang dari sisi geopolitik:
Presiden AS Donald Trump dan perwakilan Tiongkok dikabarkan akan menggelar pertemuan lanjutan di Malaysia pada akhir Oktober, dengan pembicaraan yang disebut “produktif”.
Pasar langsung menafsirkan bahwa ketegangan dagang mulai mereda, sehingga permintaan aset aman seperti emas menurun.
Ketika risiko global berkurang, investor cenderung kembali ke aset berisiko seperti saham atau obligasi korporasi.
3. Pengambilan Keuntungan (Profit Taking) Besar-besaran
Emas sebelumnya sudah naik lebih dari 60% sepanjang 2025, dan hanya dalam dua minggu terakhir naik lebih dari 8%.
Kenaikan yang terlalu cepat membuat banyak investor besar — termasuk dana ETF emas dan bank sentral — melakukan realisasi laba.
Begitu harga menembus area teknikal $4.200 dan $4.150, tekanan jual makin besar karena stop-loss trader ritel dan institusi ikut terpicu.
4. Penguatan Dolar dan Sentimen Risiko Global
Indeks dolar (DXY) melonjak mendekati 107,4, level tertinggi dalam hampir dua bulan.
Selain itu, pasar saham global menguat setelah laporan ekonomi AS menunjukkan data tenaga kerja dan penjualan ritel yang solid, menandakan ekonomi AS masih kuat meski suku bunga tinggi.
Kondisi ini membuat emas kehilangan daya tariknya sebagai “safe haven”.
5. Tekanan dari Pasar Fisik Asia
Permintaan fisik di India dan Tiongkok sedikit melambat karena harga emas yang terlalu tinggi setelah rekor $4.300.
Dealer melaporkan premi di India turun hampir 40%, artinya permintaan menurun saat masyarakat menunggu harga yang lebih rendah menjelang musim perayaan.
Analisa Teknikal Emas Hari Ini (22 Oktober 2025)
Secara teknikal, tren emas jangka pendek berubah menjadi korektif setelah menembus support kuat di $4.120.
Jika tekanan jual berlanjut, potensi support berikutnya berada di $4.020, dan $3.950 menjadi area kunci psikologis.
Namun selama harga bertahan di atas $3.950–$3.980, tren besar masih bullish secara struktural.
Resistance terdekat kini berada di $4.180 dan $4.250, yang harus ditembus untuk mengonfirmasi kembalinya momentum naik.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id