Tekanan Turun dari Dua Arah Dapat Lemahkan Harga Minyak
Kemungkinan terjadinya oversuplai pada pasokan minyak global kembali meningkat dan berpotensi menekan harga minyak dunia. OPEC+ memutuskan menaikkan produksi sebesar 547.000 barel per hari untuk bulan Agustus dan September, mengakhiri pemangkasan sebelumnya. Ini menciptakan potensi oversuplai global.
Tanda tekanan tetapi pesimis terhadap produksi lebih lanjut. Walau produksi meningkat, analis mencatat keraguan apakah anggota seperti Arab Saudi atau Rusia benar-benar mampu memenuhi target, sehingga harga tetap di kisaran $68–$70.
Sentimen perdagangan global negatif, kekhawatiran atas tarif AS yang diterapkan ke berbagai negara dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi global dan menurunkan permintaan energi jangka menengah.
Geopolitik tetap jadi katalis bullish yang moderat sementara ancaman potensi penutupan Selat Hormuz oleh Iran pada Juni lalu pernah memicu lonjakan harga, walaupun pasar kini menimbang kemungkinan tersebut telah dinetralisir.
Goldman Sachs mempatkan proyeksi Brent Q4 2025 di $64/bbl dan $56/bbl pada 2026. Poll Reuters memperkirakan Brent rata-rata akan berada pada kisaran $67,84 di 2025, dengan risiko turun ke $63 di Q2 2026.
Harga bergerak antara support $65 dan resistance $70. konsolidasi umum pada pasar minyak setelah gejolak harga sebelumnya. Support utama berada di level $65 sementara resistance intraday berada di sekitar $69 dan $70 sebagai batas rentang atas.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id