Perak Tersandung ke Level $36: Koreksi Sehat atau Awal Penurunan Lanjutan?
Data ekonomi AS seperti Employment Cost Index dan PCE Price Index minggu ini mengisyaratkan bahwa The Fed mungkin menunda penurunan suku bunga, yang membuat dolar tetap kuat dan membatasi pergerakan nauk untuk logam mulia termasuk perak
Ketika dolar AS menguat, logam mulia seperti perak jadi lebih mahal bagi pembeli non-dolar, sehingga permintaan turun..
Meski defisit suplai masih ada, beberapa tambang besar mulai meningkatkan produksi pasca pandemi dan harga tinggi. Lonjakan kecil di sisi pasokan ini menciptakan tekanan jangka pendek meskipun tren jangka menengah masih bullish.
Koreksi teknikal wajar terjadi setelah reli besar, terutama karena pasar menunggu konfirmasi fundamental lanjutan.
Harga perak naik lebih dari 36% year-to-date hingga Juni–Juli. Banyak trader dan institusi kini mengambil untung.
Meskipun masih terjadi tekanan pada jangka pendek permintaan industri masih meningkat, khususnya untuk aplikasi energi terbarukan (solar panel), elektronik, dan AI. Produksi global justru menurun sehingga terjadi defisit pasokan besar—sekitar 148 juta oz pada 2024, diperkirakan 118 juta oz di 2025. Ini yang dapat mendorong kenaikan harga.
Poll Reuters terbaru merevisi target perak ke atas menjadi $34–40 per ounce dalam 6–12 bulan ke depan, didorong oleh ekspektasi risiko kebijakan dan permintaan yang kuat.
Momentum fundamental kuat mendukung uptrend jangka menengah, meski secara teknikal belum ada konfirmasi breakout.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id