Brent Berayun Tajam, Ketidakpastian Global Tekan Sentimen Pasar Energi
Brent Crude Oil, salah satu acuan harga minyak dunia, kembali menjadi sorotan setelah pergerakan harga yang fluktuatif di tengah gejolak geopolitik dan ketidakpastian permintaan global.
Setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ultimatum 50 hari kepada Rusia, ketegangan sempat meningkat, namun tidak berujung pada sanksi langsung. Hal ini menenangkan pasar dan mendorong harga Brent turun ke kisaran $68,90 per barel.
Sementara itu, OPEC+ terus meningkatkan produksi hingga 548 ribu barel per hari untuk menjaga pangsa pasar, seiring harapan pertumbuhan ekonomi global di paruh kedua tahun ini.
Berdasarkan laporan IEA, pertumbuhan permintaan minyak global pada 2025 diperkirakan hanya naik sekitar 700 ribu barel per hari — angka terendah sejak 2009. Hal ini menciptakan tekanan struktural pada harga minyak dalam jangka menengah.
Goldman Sachs merevisi target harga Brent menjadi $66 per barel untuk semester II 2025, naik dari proyeksi sebelumnya.
Sementara EIA memprediksi harga rata-rata akan tetap di bawah $70 pada 2025, dan turun ke $58 pada 2026, mencerminkan potensi surplus jangka panjang.
Untuk area support brent crude oil hari ini berada di $68.50-$69.90 sementara resistencenya berada di $71.30-$73.40. Jika harga menembus $71.30, peluang untuk naik ke area $72.65-$73.40 terbuka lebar, sebaliknya jika turun dibawah $68.50 harga bisa terkoreksi lebih dalam menuju area $66-$62..
Dengan dinamika global yang masih berubah cepat, investor dan trader di sektor energi perlu terus memantau faktor seperti kebijakan OPEC+, konflik geopolitik, serta arah kebijakan suku bunga global yang turut memengaruhi arah harga minyak mentah.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id