Minyak Tertahan di Persimpangan: Menanti Breakout atau Koreksi?
Minyak masih diperdagangkan dalam kisaran ketat di area $67 per barel. Penurunan yang terjadi beberapa hari sebelumnya akibat pernyataan dari Donald Trump yang mengatakan bawah telah terjadi gencatan senjata antara Israel-Iran sedikit tertahan terkait laporan dari AS mengenai persediaan minyak mentah mereka.
Laporan EIA menunjukkan adanya penurunan persediaan sebesar 5,8 juta barel, jauh melebihi estimasi 0,8 juta barel. Stok bensin juga turun, menandakan permintaan domestik AS yang kuat, menopang harga serta menghambat penurunan lebih lanjut. Meskipun sempat memicu lonjakan harga awal pekan, risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah mulai mereda akibat kesepakatan ceasefire Israel–Iran.Berita ini meredam tekanan naik tajam, tapi fundamental penawaran/permintaan masih solid.
Tekanan dari Presiden Trump ke Powell soal kebijakan moneter menyebabkan dolar melemah ke level terendah tiga tahun—melemahkan imbal hasil obligasi dan mendukung harga komoditas, termasuk minyak.
OPEC+ masih menjaga kebijakan output stabil, meski ada wacana penambahan produksi seperti disarankan oleh pejabat Rusia.Ini berarti penawaran global tidak mengalami lonjakan, menjaga harga bergerak pada level ini.
Masih dalam pola konsolidasi naik (ascending range) sejak 20 Juni 2025. Harga membentuk higher lows, menandakan buyer perlahan masuk, tapi belum ada breakout kuat. Bullish breakout jika tembus dan closing di atas 68.70 → target berikutnya: 69.80 hingga 71.00, semantara Rejection & turun ke bawah 66.80 → bisa uji kembali support kuat di 65.40.
Sumber : (mrv@Newsmaker)