Waspadai Keputusan Senat AS, Emas Koreksi atau Signal Turun ?
Harga emas dunia mengalami penurunan sesi asia hari ini, seiring dengan menguatnya dolar Amerika Serikat dan lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Kondisi ini membuat investor melepas aset lindung nilai seperti emas dan beralih ke aset berimbal hasil lebih tinggi.
Berdasarkan data pasar internasional, harga emas spot turun ke kisaran US$ 4.107 per ons, melemah 0.4%, setelah sempat menyentuh level tertinggi mingguan di US$ 4.148 per ons.
Analis logam mulia dari Kitco Metals, Jim Wyckoff, menjelaskan bahwa tekanan terhadap harga emas disebabkan oleh ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga AS.
“Pelemahan emas hari ini lebih disebabkan oleh penguatan dolar dan sentimen risk-on di pasar global. Investor mulai percaya ekonomi AS cukup kuat untuk bertahan tanpa pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat,” ujarnya.
Secara teknikal, harga emas menunjukkan pola koreksi setelah gagal menembus resistance di area US$ 4.160 per ons.
Support terdekat berada di kisaran US$ 4.020–4.000, dan jika level ini tembus, penurunan berpotensi berlanjut menuju US$ 3.975.
Resistance terdekat kini di US$ 4.120, sementara resistance utama di US$ 4.160 menjadi batas psikologis penting.
Ke depan, para analis memperkirakan volatilitas harga emas akan tetap tinggi hingga pekan depan, terutama menjelang rilis data inflasi konsumen (CPI) AS dan pemungutan suara DPR AS mengenai RUU anggaran.
Jika data inflasi menunjukkan tekanan harga masih tinggi dan dolar terus menguat, emas berpotensi melanjutkan penurunan menuju US$ 3.950 per ons. Namun, jika kebijakan fiskal AS justru menimbulkan ketidakpastian baru, logam mulia ini bisa kembali rebound sebagai aset lindung nilai utama.
“Emas saat ini berada di titik keseimbangan antara kekhawatiran ekonomi dan ekspektasi moneter. Pergerakan berikutnya sangat bergantung pada arah kebijakan The Fed dan hasil pembahasan anggaran di Kongres,” pungkas Erlam.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id