Brent Drop! Penguatan Dolar Bikin Harga Minyak Tumbang di Awal Pekan
Harga minyak mentah Brent tergelincir pada perdagangan sesi Asia hari Rabu (5/11), terbebani oleh kekhawatiran meningkatnya pasokan global dan penguatan dolar AS menjelang keputusan kebijakan moneter The Federal Reserve.
Kontrak Brent Crude tercatat turun ke kisaran US$64,65 per barel, melemah sekitar 0,3% dari penutupan sebelumnya. Tekanan terutama datang dari laporan Energy Information Administration (EIA) yang memperkirakan stok minyak global meningkat signifikan selama dua pekan terakhir, seiring produksi dari AS, Libya, dan beberapa anggota OPEC+ kembali pulih ke level tertinggi dalam tiga bulan terakhir.
“Pasar saat ini menghadapi kondisi kelebihan pasokan sementara permintaan masih belum pulih sepenuhnya. Kenaikan produksi dari AS dan Timur Tengah memperberat tren koreksi di awal pekan,” ujar Stephen Innes, analis energi di SPI Asset Management, dikutip dari Reuters.
Penurunan Brent di sesi Asia juga dipicu oleh penguatan dolar AS yang membuat harga minyak lebih mahal bagi pembeli dengan mata uang lain. Indeks dolar (DXY) naik ke level tertinggi dalam dua minggu terakhir setelah data ekonomi AS yang solid memupuskan ekspektasi pemangkasan suku bunga cepat oleh The Fed.
Selain itu, aktivitas hedging oleh importir Asia, khususnya dari Tiongkok dan Jepang, ikut menekan harga di awal sesi. Beberapa perusahaan penyulingan dikabarkan menunda pembelian spot karena kekhawatiran harga masih bisa terkoreksi lebih dalam setelah rilis data stok minyak AS.
“Di Asia, tekanan datang dari pelemahan yuan dan yen terhadap dolar. Banyak pembeli besar mengambil posisi tunggu, sementara permintaan bahan bakar musiman belum sepenuhnya pulih,” ujar laporan pasar harian Energy Intelligence Asia.
Secara fundamental, pasar minyak global menghadapi keseimbangan yang rapuh.
Produksi minyak mentah AS menembus 13,2 juta barel per hari — mendekati rekor tertinggi.
Sementara itu, ekspor Rusia dan Iran tetap tinggi meskipun ada sanksi baru.
Dari sisi permintaan, EIA memperkirakan konsumsi global kuartal IV hanya naik tipis, dengan Tiongkok mencatat pertumbuhan ekonomi yang melambat di bawah ekspektasi.
Kombinasi tersebut menciptakan tekanan jual lanjutan di pasar energi.
Secara teknikal, harga Brent saat ini bergerak di bawah rata-rata pergerakan 50 harinya (MA50) dan menghadapi resistensi kuat di kisaran US$65.00–65.50 per barel.
Support terdekat: US$64.00 – US$63.50 per barel
Support lanjutan: US$63.00 per barel
Resistance: US$65.00 per barel
“Pasar minyak berada dalam fase konsolidasi. Setiap pergerakan ekstrem dolar atau perubahan sikap OPEC+ bisa menjadi katalis kuat,” tulis Bloomberg Energy Review dalam laporannya pagi ini.
Harga minyak Brent turun di sesi Asia akibat kombinasi penguatan dolar, peningkatan stok global, dan lemahnya permintaan dari Asia. Secara teknikal, tren jangka pendek masih cenderung bearish dengan potensi pengujian level US$64–63 per barel dalam waktu dekat.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id