
Trending

audusd
Sumber: Newsmaker.id
Dolar Australia (AUD) bergerak di bawah US$0,70 dan masih berada di dekat level terendah dalam beberapa bulan. Tekanan terhadap AUD terjadi setelah investor mencermati risalah pertemuan Reserve Bank of Australia (RBA) September yang menunjukkan bahwa sejumlah risiko inflasi yang sebelumnya diperkirakan mulai benar-benar muncul.
Dalam risalah tersebut, RBA menegaskan bahwa kenaikan suku bunga masih mungkin dilakukan apabila tekanan inflasi terus berlanjut. Kondisi ini membuat pasar kembali memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan November, terutama jika data inflasi kuartal III menunjukkan tekanan harga yang masih tinggi.
RBA juga menyoroti meningkatnya biaya global, ketegangan di Timur Tengah, serta harga minyak yang berada di atas asumsi dalam proyeksi Agustus sebagai risiko terhadap inflasi Australia. Kenaikan harga energi dapat meningkatkan biaya transportasi dan produksi, sehingga berpotensi membuat inflasi lebih sulit kembali ke target.
Dari sisi eksternal, AUD juga menghadapi tekanan dari Dolar AS yang menguat ke level tertinggi dalam 18 bulan. Penguatan Dolar membuat AUD relatif kurang menarik, terutama ketika investor mencari aset safe haven di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik. Karena itu, meskipun RBA masih membuka peluang kenaikan suku bunga, kekuatan Dolar AS menjadi penghambat bagi AUD.
Newsmaker melihat, arah AUD berikutnya akan sangat bergantung pada data ekonomi Australia. Laporan tenaga kerja September yang dirilis Kamis dan data CPI kuartal III pada akhir bulan akan menjadi kunci. Jika inflasi dan pasar tenaga kerja kembali menunjukkan tekanan kuat, peluang kenaikan suku bunga RBA dapat meningkat dan memberikan dorongan bagi AUD. Sebaliknya, data yang lemah dapat memperkuat tekanan terhadap mata uang Australia.