
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Iran mengklaim empat kapal tanker mengalami insiden akibat ranjau di Selat Hormuz, sementara kelompok Houthi melaporkan serangkaian serangan terhadap Arab Saudi. Perkembangan tersebut meningkatkan ketegangan di kawasan ketika AS dilaporkan mempertimbangkan kembali opsi militer terhadap Iran setelah pemilu paruh waktu 3 November.
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyebut tiga kapal tanker terbakar setelah mengenai ranjau di jalur selatan dekat pesisir Oman, sementara satu kapal lainnya dilaporkan terbakar di sebelah timur selat. Operasi Perdagangan Maritim Inggris juga melaporkan adanya perahu kecil yang memasang dua alat peledak pada sebuah kapal tanker sekitar 25 mil laut timur laut Khasab, Oman, hingga menyebabkan kebakaran di ruang mesin.
IRGC juga membantah pernyataan Komando Pusat AS (CENTCOM) yang sebelumnya menyebut pasukan Amerika telah membersihkan ranjau dari jalur pelayaran utama di Selat Hormuz. Selat tersebut merupakan jalur perdagangan strategis yang membawa sekitar seperlima pasokan energi dunia, sementara lalu lintas kapal dilaporkan turun drastis sejak konflik dimulai pada akhir Februari.
Di Yaman, kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim melancarkan enam operasi militer terhadap sejumlah sasaran di Arab Saudi, termasuk bandara dan fasilitas minyak. Arab Saudi belum menyetujui seluruh klaim tersebut, tetapi menyatakan pertahanan udaranya berhasil menangkap drone Houthi yang menuju wilayah Makkah.
Di tengah ketegangan yang meninggi, jalur diplomasi masih terbuka. Wakil Presiden AS JD Vance sebelumnya mengirimkan surat kepada Mohsen Rezaei melalui mediator Qatar untuk menawarkan kerangka pembicaraan. Namun, laporan mengenai kemungkinan dimulainya kembali operasi militer AS setelah pemilu paruh waktu membuat situasi tetap tidak pasti.
Ketegangan semakin menjadi perhatian setelah Laksamana Brad Cooper, komandan tertinggi AS di kawasan tersebut, memberikan pengarahan kepada Presiden Donald Trump mengenai opsi militer terhadap Iran dalam pertemuan di Gedung Putih. Pertemuan itu juga membahas blokade AS yang masih berlangsung, namun belum menunjukkan bahwa Trump telah mengambil keputusan final untuk kembali melakukan operasi militer besar. (srh)
Sumber: Newsmaker.id