
Trending
.png)
Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Perekonomian Jerman mencatat pertumbuhan sebesar 0,2% pada kuartal ketiga 2026 dibandingkan kuartal sebelumnya, berdasarkan estimasi awal yang dirilis Jumat (30/10/2026). Angka tersebut melambat dari pertumbuhan 0,3% pada kuartal kedua, tetapi masih melampaui perkiraan pasar sebesar 0,1%. Secara tahunan, produk domestik bruto (PDB) Jerman tumbuh 1,2% setelah penyesuaian kalender, meningkat dari 1,0% pada kuartal sebelumnya dan menjadi laju pertumbuhan terkuat dalam empat tahun terakhir. Hasil ini menunjukkan bahwa ekonomi terbesar di Eropa masih mampu mempertahankan pemulihan meskipun menghadapi berbagai tekanan global.
Perlambatan pertumbuhan terutama disebabkan oleh melemahnya aktivitas ekspor setelah mencatat kinerja yang cukup kuat sepanjang semester pertama. Ketidakpastian perdagangan internasional, tingginya biaya energi, serta gangguan distribusi menjadi tantangan bagi sektor industri Jerman yang sangat bergantung pada permintaan luar negeri. Di sisi lain, konsumsi rumah tangga dan pemerintah masih mengalami peningkatan tipis, sementara pembentukan modal atau investasi mengalami penurunan. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pemulihan ekonomi belum berlangsung merata karena konsumsi mulai memberikan dukungan, tetapi aktivitas investasi masih menghadapi tekanan.
Meski pertumbuhan kuartalan melambat, pemerintah Jerman menunjukkan optimisme terhadap prospek ekonomi dengan menaikkan perkiraan pertumbuhan sepanjang 2026 menjadi 1,3%, dari proyeksi sebelumnya sebesar 0,5%. Perkiraan pertumbuhan untuk 2027 juga dinaikkan menjadi 1,1%, dari sebelumnya 0,9%. Revisi tersebut mencerminkan harapan bahwa peningkatan belanja pemerintah, pembangunan infrastruktur, dan pemulihan aktivitas usaha dapat membantu menopang pertumbuhan. Namun, keberlanjutan pemulihan masih bergantung pada kemampuan sektor manufaktur meningkatkan produksi dan menghadapi tekanan biaya energi.
Dari sisi pasar keuangan, pertumbuhan Jerman yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi memberikan dukungan terhadap mata uang Euro karena menunjukkan ketahanan ekonomi kawasan. Meski demikian, perlambatan ekspor dan investasi dapat membatasi optimisme investor serta menjadi pertimbangan bagi European Central Bank (ECB) dalam menentukan kebijakan moneternya. Jika data ekonomi Eropa berikutnya menunjukkan pemulihan yang lebih luas, Euro berpeluang memperoleh momentum penguatan terhadap dolar AS. Sebaliknya, pelemahan sektor industri yang berkelanjutan dapat menekan prospek pertumbuhan.