Wall Street Cetak Rekor, Apa Dampaknya ke Asia?
Saham Asia diperkirakan dibuka dengan kenaikan tipis pada Selasa (23/09), mengikuti reli di Wall Street yang didorong optimisme baru terhadap saham teknologi besar. Kontrak berjangka untuk Australia dan Korea Selatan menunjukkan potensi penguatan, sementara Hong Kong cenderung datar karena dilanda topan terkuat sejak 2018. Pasar obligasi AS tutup karena libur nasional di Jepang, sehingga aktivitas perdagangan di Asia lebih sepi.
Di Wall Street, S&P 500 mencatat rekor ke-28 tahun ini setelah saham Nvidia melonjak sekitar 4% usai berkomitmen berinvestasi hingga $100 miliar di OpenAI. Reli teknologi mendorong saham AS naik tiga pekan berturut-turut, ditambah sentimen positif dari pemangkasan suku bunga pertama The Fed tahun ini. Meski begitu, beberapa analis mengingatkan agar investor tetap berhati-hati di tengah reli besar yang sudah menambah nilai pasar sekitar $15 triliun sejak April.
Pasar obligasi relatif tenang, dengan imbal hasil AS sedikit lebih tinggi menjelang lelang Treasury dan rilis data inflasi penting. Indeks PCE inti ukuran inflasi pilihan The Fed diperkirakan tumbuh lebih lambat pada Agustus, memberi ruang bagi bank sentral untuk lebih fokus pada pelemahan pasar tenaga kerja. Beberapa pejabat The Fed akan menyampaikan pandangan minggu ini, termasuk Ketua Jerome Powell, sementara Gubernur Stephen Miran menyerukan penurunan suku bunga lebih agresif.
Di Asia-Pasifik, perhatian juga tertuju pada Selandia Baru yang akan menunjuk gubernur bank sentral wanita pertama sekaligus orang asing untuk memimpin lembaga tersebut. Sementara itu, Hong Kong bersiap menghadapi super topan Ragasa yang bisa menunda debut perdagangan IPO raksasa Zijin Gold International, salah satu penawaran umum terbesar dalam beberapa bulan terakhir.(ads)
Sumber: Bloomberg.com