Dolar Menguat di Tengah Risiko Inflasi dan Ketidakpastian Iran
Indeks dolar AS (DXY) menguat pada Selasa (24/3) setelah sempat terpukul pada sesi sebelumnya, seiring arus safe-haven kembali masuk usai Iran membantah klaim diplomatik Presiden AS Donald Trump. DXY naik ke sekitar 99,42.
Di pasar valuta utama, euro melemah ke sekitar US$1,1584, sementara pound sterling turun ke US$1,3405. Yen melemah dengan USD/JPY di sekitar 158,98, tetap dekat area sensitif 159–160 yang kerap memicu peringatan intervensi dari Tokyo. Franc Swiss bertahan kuat sebagai aset lindung nilai; ketua SNB menyatakan kesiapan intervensi valas ditingkatkan untuk menahan penguatan franc. (Mengacu kurs referensi EUR/USD dan EUR/CHF, USD/CHF berada di kisaran 0,79).
Dari sisi inflasi, Nowcast Cleveland Fed memperkirakan inflasi Maret 2026 kembali menghangat, dengan CPI YoY 3,16% dan PCE YoY 3,23%, mencerminkan dorongan harga energi. Data aktivitas juga memperkuat narasi “stagflation risk”: survei S&P Global menunjukkan Composite PMI turun ke 51,4 (terendah 11 bulan), dengan manufaktur 52,4 membaik namun jasa 51,1 melemah; tekanan biaya naik (input costs tertinggi 10 bulan) dan indeks ketenagakerjaan turun di bawah 50. (Arl)
Sumber: Newsmaker.id